Loksado: Keindahan yang Tersembunyi

LOKSADO. Mungkin bagi beberapa orang belum pernah mendengar apa dan di mana itu Loksado. Loksado merupakan nama sebuah desa  di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, yang letaknya sekitar 33 Km dari pusat Kota Kandangan, Kalimantan Selatan.

A: Samarinda, B: Kandangan, C: Banjarmasin.

A: Samarinda, B: Kandangan, C: Banjarmasin.

Long weekend akhir bulan Maret 2013 yang lalu aku melakukan perjalanan ke desa yang terletak di Pegunungan Meratus tersebut. Simple, karena aku tidak ingin melewatkan long weekend ku hanya berdiam diri di kamar kosan, sehingga aku mencari informasi wisata apa saja yang terdapat di sekitar Kota Samarinda, kota tempat tinggalku saat ini. Dan terpilihlah desa yang menjadi  daerah wisata alam dan atraksi budaya masyarakat Dayak Bukit, Loksado.

H min tiga aku baru mempersiapkan semuanya, mulai dari itinerary, transportasi yang dapat digunakan, hingga perkiraan biaya yang akan kukeluarkan untuk perjalanan kali ini. Sampai akhirnya aku mengajak semua travelmates yang mungkin bisa diajak bersama dalam perjalanan kali ini. Setelah melakukan pendekatan dan sedikit penjelasan, hanya satu orang teman yang bisa ikut dalam perjalanan kali ini, yaitu Mangga.

Itinerary Loksado

Itinerary Loksado

Berdasarkan tulisan-tulisan yang kubaca pada website dan beberapa blog, untuk menuju Loksado dari Samarinda dapat dilalui dengan dua cara, yaitu dengan menggunakan pesawat dari Balikpapan ke Banjarmasin kemudian dilanjutkan perjalanan darat selama 4 jam, atau dengan menggunakan bis dari Samarinda ke Kandangan yang ditempuh selama 16-18 jam.

“Waw! 18 jam?” teriakku dalam hati. Aku memicingkan mata, hidungku kembang kempis.

“Selama itu-kah perjalanannya?” tanyaku pada monitor dihadapanku.

Sudah terpikir dalam benakku betapa panjang dan lelahnya perjalanan ke Loksado dengan menggunakan transportasi bis! Namun, aku ingin sekali melakukan perjalanan darat. Aku berkeyakinan bahwa perjalanan darat lebih menantang dan akan menemukan pengalaman yang lebih seru. Akhirnya, aku memutuskan untuk membeli tiket bis Samarinda-Kandangan dengan harga 155.000 Rupiah. Sedangkan Mangga yang berangkat dari Surabaya,  menggunakan pesawat ke Banjarmasin kemudian dilanjutkan perjalanan darat selama 4 jam ke Kandangan. Kami-pun sepakat untuk bertemu di Terminal Kota Kandangan.

………………………..

Kamis sore itu, 28 Maret 2013, Bis Samarinda Lestari yang mengantarkan perjalanan Trans-Kalimantan pertamaku bertolak  dari Terminal Bis Samarinda Seberang pukul 17.05 WITA. Aku duduk di kursi no 10 dekat jendela bersebelahan dengan seorang laki-laki yang kira-kira berusia 25 tahun. Kami-pun saling menyapa, ngobrol basa-basi satu sama lain, ternyata laki-laki tersebut adalah seorang pendatang dari kota Purwokerto yang sedang bekerja di United Tractors.

Bis "Full AC" yang mengantarkanku ke Loksado

Bis “Full AC” yang mengantarkanku ke Kandangan

“Aku ingin menghabiskan liburan long weekend di Banjarmasin, tempat tanteku.” katanya menutup pembicaraan.

Akhirnya aku menutup telingaku dengan sepasang headset kemudian mulai membuat video clip sepanjang perjalanan sambil menikmati pemandangan dari balik jendela bis. Bis yang kutumpangi, walaupun judulnya PATAS AC, namun jangan di-sama-kan dengan bis Patas AC Nusantara Jakarta-Yogyakarta. Sungguh sangat jauh sekali. Bahkan masih jauh lebih nyaman bis Patas AC Malang-Surabaya.

Mengapa demikian? Bis Trans Kalimantan ini akan tetap menaikkan penumpang di tengah jalan, walaupun seluruh kursi sudah penuh diisi oleh penumpang. Nah loh.

“Apakah mereka akan berdiri selama 18 jam?” tanyaku dalam hati, namun pura-pura cuek.

Ternyata mereka akan disediakan dingklek kecil (yang kalau di rumahku biasa dipakai mama saat mencuci baju di kamar mandi) kemudian berjejer duduk di “gang” dalam bis tersebut. Bujubuneng..

“Gile, mekso banget ya. Mereka akan duduk jongkok di kursi yang (pastinya) sama sekali tidak empuk dan tanpa sandaran selama 18 jam??!” tanyaku takjub.

………………………..

Kulihat dari balik jendela kami sudah sampai di Pelabuhan Kariangau Balikpapan. Mungkin ini adalah ujung dari jalan raya Balikpapan. Untuk menuju Penajam Paser harus menyebrangi Teluk Balikpapan dengan menggunakan kapal ferry selama kurang lebih 1 jam. Kapal ferry ini merupakan transportasi utama yang menghubungkan dua daerah tersebut, sebab inilah cara tercepat untuk menuju Penajam atau sebaliknya, termasuk semua aktivitas ekonomi juga menggunakan sarana transportasi tersebut.

Di atas kapal ferry kugunakan untuk melihat pemandangan dan merasakan segarnya udara Teluk Balikpapan sambil tidak lupa mengambil gambar dengan menggunakan kamera poketku. Aku juga sempat ngobrol dengan sesama penumpang kapal ferry, inilah yang kunamakan “dare to make a conversation first“. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya aku bukan orang yang dapat memulai perkenalan dan cepat akrab dengan seseorang. Namun, aku terus belajar dan berusaha untuk mengubah sifatku tersebut, menambah teman itu tidak ada ruginya sama sekali, malah akan dapat informasi yang mungkin sebelumnya belum kuketahui.

Hingga akhirnya tak terasa kapal ferry yang kutumpangi bersender di sisi utara Penajam.

Hasil pdkt dengan sesama penumpang (baca: dipotoin)

Hasil pdkt dengan sesama penumpang (baca: dipotoin)

………………………..

Bis berhenti beberapa saat di sebuah rumah makan di daerah Paser, arah jarum panjang sudah menunjukkan angka 10 di jam tanganku. Kulihat kuah sayur sop membanjiri piring yang berisi sedikit nasi putih dan 1 potong ayam yang berukuran mini. Aku yang tidak selera melihat menu yang dihidangkan, memilih untuk makan wafer yang kubawa sendiri.

Bis-pun melaju dengan kecepatan tinggi semakin menjauhi Paser, namun jalanan bukannya semakin mulus malah semakin gronjalan, menyempit dan naik-turun. Kanan-kiri yang terlihat hanyalah hutan belantara antah berantah yang mungkin dihuni oleh ular anaconda, lumayan ngeri juga melihatnya. Aku tidak bisa membayangkan mereka yang duduk di dingklek tanpa sandaran dan alas empuk itu. Bagaimana mereka bisa tidur dengan nyenyak?

Sampai akhirnya kami memasuki perbatasan Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Sungguh perbedaan yang sangat jauh, begitu bis aku tumpangi masuk ke wilayah Kalimantan Selatan, gronjalan itu tiba-tiba hilang. Jalanan yang sebelumnya rusak berbatu berganti dengan jalan yang mulus, berbeda sekali. Aku keheranan, mengapa Kaltim tidak bisa meniru Kalsel dalam hal infrastruktur jalan antar kotanya. Padahal yang kudengar Kaltim merupakan propinsi di Indoneasia yang memiliki sumber daya alam tertinggi kedua (setelah Papua), namun mengapa infrastrukturnya masih seperti ini.

………………………..

Akhirnya, bis yang kutumpangi masuk ke Terminal Kota Kandangan sekitar pukul 9:30 pagi. Aku menyempatkan sarapan Soto Kandangan yang tersohor itu, namun rasanya sama sekali tidak di cocok di lidahku. Rasanya seperti sayur tanpa garam, hambar.

Ternyata, Mangga sudah sampai duluan di Terminal. Namun, aku tetap saja belum melihat batang hidungnya di tiap sudut terminal ini. Karena ternyata, kami berada di 2 terminal yang berbeda. How ridiculous! Mangga berada di Terminal Kota Kandangan dan aku di Terminal Bis Kandangan. Oke, memang mirip tapi ini sama sekali berbeda. Langsung saja aku meluncur ke terminal tempat Mangga berada dengan menggunakan ojek.

Mangga dengan perawakannya yang masih sama: kecil, bongsor dan bibir mencucu, menungguku sambil memangku tasnya yang besar. Bahkan tasnya saja lebih besar dari badannya sendiri. Tak ingin membuang banyak waktu, kami berdua yang seperti anak hilang ini segera mencari tahu bagaimana cara melanjutkan perjalanan ke Loksado. Beberapa tukang ojek menawari kami dengan harga yang menurutku cukup fantastik, 100.000 Rupiah. Kami memilih untuk menunggu angkutan umum. Setengah jam menunggu angkutan umum ke Loksado belum juga ada. Aku mulai kesal menunggu, kucoba datang lagi ke tukang ojek kemudian kutawar setengah mati sampai akhirnya menemukan harga kesepakatan, yaitu 70.000 rupiah/ojek.

Perjalanan ke Loksado ternyata memang sangat jauh. Harga yang sesuai untuk jarak yang sedemikian jauh. Ada yang menarik yang disampaikan tukang ojek pada saat perjalanan menuju Loksado padaku:

“Mas, kalau mau nyantet orang yang mas ga suka atau mau melet orang yang mas suka, mas bisa datang ke orang pintar yang ada di Loksado. Dijamin ampuh!” cerita tukang ojek padaku yang tiba-tiba begidik.

Buset, serem banget ya!

Batas Desa Loksado

Batas Desa Loksado

Setelah melalui perjalanan selama 45 menit, kami sampai juga di Desa Loksado. Desa ini benar-benar tersembunyi dikelilingi perbukitan sehingga membuat udaranya menjadi sejuk dan bersih.

Tukang ojek membawa kami ke sebuah penginapan bernama Alya Homestay, sebuah penginapan sederhana berdinding dan berlantai kayu. Penginapan ini memasang rate 150.000 Rupiah per-malam. Kami memesan dua kamar.

Alya Homestay, the wooden homestay

Alya Homestay, the wooden homestay

Walaupun hanya difasilitasi sebuah tempat tidur besar dan kipas angin, namun pemandangan dari balik jendela kamar sangat mempesona. Aku dapat melihat perbukitan dengan pepohonan hijau serta batu-batu granit besar di tepi sungai dengan arus-nya yang membentuk suara khas pedesaan. “Yiha, i’m really in the village now!” teriakku dalam hati sambil menghirup udaranya yang segar.

Pemandangan di belakang Homestay

Pemandangan di belakang Homestay

Kemudian, kami menyewa sebuah sepeda motor Honda Vario Matic 70.000 Rupiah/hari untuk menikmati setiap yang menjadi icon di Desa Loksado ini. Icon Loksado pertama yang kami kunjungi adalah Air Terjun Haratai.

Cahaya dari Langit

Cahaya dari Langit

“Air terjun Haratainya ga jauh kok mas, paling 15 menit saja.” kata si pemilik sepeda motor kepadaku.

“Oke, berangkat!” teriakku pada Mangga.

Perjalanan menuju air terjun Haratai cukup menantang. Kami harus melewati banyak sekali jembatan kayu yang beberapa diantaranya hampir rusak, bahkan kami sempat harus menuntun sepeda motor agar dapat melewati satu jembatan kayu yang benar-benar rusak. Suasananya pun cukup spooky dan sepi. Melewati sebuah kuburan dengan jalan yang sempit naik turun bergronjal.

Sudah 20 menit berjalan, namun air terjun Haratai masih belum juga terlihat. Aku dan Mangga mulai becanda seadanya.

“Katanya dekat, 15 menit. Tapi ini kok..” keluh Mangga.

“Ya, bagi mereka mungkin memang dekat, bagi kita?” kataku memotong pembicaraan.

Jalanan Sempit menuju Air Terjun Haratai

Jalanan Sempit menuju Air Terjun Haratai

Aku mulai sedikit khawatir dengan jalannya yang semakin menyempit dan menyeramkan, ditambah lagi hari sudah mulai gelap. Aku meminta untuk segera kembali saja ke penginapan, walaupun sebenarnya Mangga masih penasaran dengan air terjun Haratai yang masih belum terlihat dipelupuk mata.

Mangga di depan Gerbang Air Terjun Haratai

Mangga di depan Gerbang Air Terjun Haratai

Malam harinya suasana pedesaan Loksado sungguh sangat sunyi. Hanya ada beberapa ekor anjing yang terlihat sedang mondar-mandir di depan penginapan. Dan ketika kami ingin membeli sesuatu untuk makan malam, kami tidak dapat menemukan satu-pun warung nasi yang buka saat itu. Dan kami-pun tidur dalam kelaparan….

………………………..

Pagi harinya, akhirnya kami siap untuk melakukan aktivitas yang ditunggu-tunggu, yaitu BAMBOO RAFTING. Kami sangat heboh sekali untuk segera menyusuri sungai dengan menggunakan rakit. Rakit ini terbentuk dari enam belas bambu yang diikat secara ketat di bagian depan dan diikat sedikit longgar di bagian belakang. Sebenarnya ini merupakan alat transportasi tradisional yang digunakan penduduk sebagai penghubung antar desa. Namun dengan kekreativitasan penduduk Loksado, maka rakit ini digunakan dalam aktivitas Bamboo Rafting untuk dapat menarik para wisatawan datang ke desa tersebut.

Sungai Amandit

Sungai Amandit

Kami ditemani oleh Bapak sebagai “nahkoda” rakit yang bertugas untuk mengatur dan mengontrol perjalanan selama menyusuri sungai.

“Kita akan menyusuri sungai ini selama dua jam, selamat menikmati indahnya Loksado!” sang nahkoda membuka suara.

Wohoo! Sungainya sungguh bersih, airnya dingin, udaranya sejuk, pemandangan sekitar hijau menyegarkan mata. Kami dikelilingi oleh hutan belantara, dengan jutaan pohon-pohonnya, bahkan kami sempat menemukan beberapa monyet sedang bergelantungan. This is the real Borneo!

Bamboo Rafting Loksado

Bamboo Rafting Loksado

“Inilah Kalimantan yang sesungguhnya, paru-parunya dunia!” teriakku.

“Coba bayangkan kalau saja semua hutan di Kalimantan ditebang, dijadikan lahan tambang. Mau jadi apa dunia kita?” Lanjutku.

“Maksudmu keseluruhan dunia?” tanya Mangga.

“Tentu saja! Itu mengapa Kalimantan disebut sebagai Paru-parunya dunia, karena dari sinilah udara segar itu keluar. Ya, seharusnya dunia berterima kasih kepada Indonesia, khususnya Kalimantan atas hutan belantaranya yang dapat menghasilkan udara segar!” aku coba memberi penjelasan.

Yap, ini hanya rekayasa. Bukan aku yang mendayung, hehe

Yap, ini hanya rekayasa. Bukan aku yang mendayung, hehe

Selama menyusuri Sungai Amandit ini arus deras dan batu-batu besar menjadi tantangan yang memacu adrenalinku. Saat melewatinya aku dan Mangga harus berpegangan erat pada bambu yang memang sengaja disediakan untuk menjaga keseimbangan penumpangnya. Ketika di area yang berbatu, sang nahkoda harus bekerja keras agar rakit yang kami tumpangi tidak tersangkut dan dapat terus melaju. Sedangkan aku dan Mangga hanya duduk-duduk manis sambil menikmati pemandangan, hehe.

Ibarat Ratu Mangga menikmati pemandangan saat Bamboo Rafting

Mangga duduk manis menikmati pemandangan

Yang lebih memacu adrenalinku sebenarnya apabila ada buaya atau ular anaconda di sungai ini seperti yang terdapat di film-film. Namun menurut Bapak Nahkoda di Sungai Amandit tersebut tidak ada buaya atau ular karena sungai ini tidak berlumpur. Petualangan bamboo rafting di Loksado ini menjadi pengalaman seru yang memberikan sensasi tersendiri bagiku.

Setelah melewati Sungai Amandit selama dua jam, kami berdua kembali ke homestay untuk mandi kemudian bersiap-siap meninggalkan Loksado dengan menggunakan ojek. Sesampainya di Kandangan yang kami cari adalah Rumah Makan, ya kami sangat lapar! Di warung Bu Lia aku kalap. Aku langsung menghabiskan dua piring nasi beserta lauk-pauknya dalam hitungan menit. Hehe.

Perut kenyang, kami-pun siap untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.

Banjarmasin, here we go!………….