Mendadak Ke Pulau Sempu

Mei, 2012. Kayaknya nggak ada hal lain yang lebih membuatku excited kecuali tanggal merah di pertengahan bulan, yang tepatnya jatuh pada hari Kamis tanggal 17 yang lalu. Karena bertepatan pada hari Kamis, sudah tentu esoknya, Jum’at, juga libur dong! Peraturan pemerintah tentang hari libur “cuti bersama” ini sudah pasti sangat menguntungkan bagi pegawai sepertiku hihii…

Seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, aku kali ini juga sudah merencanakannya jauh-jauh hari dengan matang. Secara, long weekend semacam ini merupakan salah satu peak season, makanya penting banget hunting tiket pesawat yang paling murah jauh-jauh hari. Sebenarnya rencana jalan-jalan kali ini adalah semacam back-up plan dari rencana perjalanan ke Karimun Jawa bulan April lalu. Sengaja aku mengajak teman-temanku yang juga travelers: Andri, Esa, dan Dani. Kami berempat awalnya punya beberapa tempat tujuan. Setelah diskusi dan debat kusir, akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi beberapa tempat wisata di Jawa Timur, antara lain: Taman Nasional Baluran, Kawah Ijen, Gunung Bromo, Bendungan Sutami dan Pantai Ngliyep. Aku semakin tak sabar karena sudah sekitar 6-7 bulan tidak pulang ke rumah.

Rabu malam, sepulang kantor, aku dan Esa langsung cabut ke bandara. Tujuan penerbangan kami sudah pasti Kota Surabaya dan terjadwal pada jam 21.50. Sedangkan dua temanku yang lain sudah menunggu di Surabaya. Dari Surabaya, kami langsung menuju rumahku di Malang.

Esoknya, kami memutuskan untuk sarapan dulu di Toko Oen yang terkenal itu di Malang sebelum memulai perjalanan. Nah, di sini ini nih sebuah rencana akhirnya berubah. Dari yang awalnya berniat mengunjungi Pantai Ngliyep sebagai destinasi awal, hingga akhirnya berbelok arah ke sebuah pulau yang terletak di sebelah selatan Kota Malang. Siapa yang tak kenal dengan Pulau Sempu yang tersohor keindahan alamnya yang masih natural itu. Sebagai orang Malang, memang bodoh sih ya aku karena sama sekali belum pernah ke sana hahahaa… Oke, ini memalukan!

Keinginan mengunjungi Pulau Sempu makin kuat karena sebelumnya aku pernah baca tulisan tentang pulau ini di buku The Journeys 2 yang ditulis oleh Windy Ariestanty. Karena penasaran, aku sedikit memaksa teman-temanku mengikuti keinginanku untuk pergi ke sana hehe… Dan akhirnya mereka setuju walaupun seorang temanku, Andri, sudah pernah ke sana sebelumnya.

Andri sempat menceritakan kondisi medan yang harus kami tempuh. Karena dia yang lebih berpengalaman pernah mengunjungi tempat itu sebelumnya, jadilah dia kami jadikan sebagai guide. Lumayan lah ada guide gratis!😀

Kami berangkat sekitar jam 11 siang setelah kenyang melahap sarapan. Di tengah perjalanan menuju ke sana, Andri terus bercerita tentang bagaimana perjalanan yang harus kami tempuh nantinya. Dia sedikit mengingatkan kalau perjalanan ini akan sedikit berat karena kondisi medan yang benar-benar masih alami. “Ah, gampanglah itu. Bisalah, yakin deh!”  sesumbarku dalam hati. Sok yakin beneeer gitu ya!

Sebenarnya tiap pengunjung yang mau berkunjung ke Pulau Sempu ini harus mendapat izin dulu di tempat perizinan yang ada di Pantai Sendang Biru. Konon katanya, izin tersebut jadi semacam “jalan” agar selama di Pulau Sempu setiap pengunjung selamat dan tidak “diganggu” oleh “penghuni” pulau tersebut. Dan kalau boleh jujur nih, kami berempat melanggar aturan perizinan ini. Karena malas, akhirnya kami berbohong pada nahkoda boat kalau kami sudah mendapat izin hehee… Curang ya. Jangan ditiru lho!

sendang biru

sendang biru

Buat yang belum tahu, di Pulau Sempu ini ada yang namanya Segara Anakan yang luar biasa keren pemandangannya. Nah, pemandangan keren yang masih alami inilah yang harus ditempuh sekitar 15-30 menit dengan menggunakan boat kecil (biaya PP per-boat-nya sebesar RP. 100.000,-). Tapi jangan senang dulu, karena perjuangan nggak berhenti disitu. Kami masih harus berjalan kaki melewati hutan di Pulau Sempu ini yang diperkirakan memakan waktu selama satu jam. Phew! Kondisi medannya ternyata lebih parah dari yang kubayangkan. Tanahnya becek, berlumpur, turun-menanjak, dan lembab sekali. Sekeliling masih berupa hutan alami yang terdiri dari pepohonan dan akar-akar yang terkubur lumpur karena hujan. Parahnya lagi, tidak ada petunjuk arah sama sekali! Benar-benar bukan jalur yang mudah, tapi aku tetap berkeinginan keras untuk cepat sampai. Tak sabar rasanya membuktikan cerita orang-orang tentang keindahan Segara Anakan ini.

nyebrang ke Pulau Sempu (Ario, Andri, Esa, Dani)

nyebrang ke Pulau Sempu (Ario, Andri, Esa, Dani)

Satu jam berjalan menyusuri hutan, Segara Anakan belum juga nampak. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan beberapa pengunjung yang baru kembali dari tempat yang ingin kami tuju. Temanku, Dani, bertanya pada mereka yang kami temui, berapa lama lagi menuju Segara Anakan. “Wah, masih jauh banget mas! Sekitar 1,5 jam lagi,” kata salah seorang dari mereka. Deg! Dalam hati aku sedikit kaget. Andri dan Esa mulai terlihat gelisah. Dan Esa pun sempat meminta agar perjalanan ini dihentikan dan kembali pulang saja. Sedangkan yang dikhawatirkan Andri adalah kalau-kalau kami harus menginap di Segara Anakan. Kami memang tidak membawa bekal apa-apa, air minum pun cuma sebotol kecil untuk kami berempat. Itu pun karena Dani yang membawanya. Tapi, rasa penasaranku sangat tinggi. Aku terus mencoba meyakinkan mereka agar tetap melanjutkan perjalanan. Sayang banget kan kalau harus berhenti dan kembali pulang padahal belum menyaksikan gimana indahnya Segara Anakan yang tersohor itu.

Setelah berjalan penuh perjuangan sekitar dua jam, akhirnya kami berempat sampai juga di tempat yang kami tuju. Aku yang semangat berapi-api tentunya sampai duluan di sana dibanding ketiga temanku. Benar saja, medan yang berat banget rasanya terbayar dengan pemandangan laut yang berwarna hijau-biru, pasir yang putih bersih, dan udara sekeliling yang masih fresh. Segara Anakan ini seperti danau yang dikelilingi perbukitan yang masih sangat alami. Dan karena letaknya yang dekat dengan Pantai Selatan, ombak yang datang seakan membentuk sebuah air terjun. Aaah… Keren banget deh alam ciptaan Allah ini, aku puas!

Sagara Anakan

Sagara Anakan

Karena badan sudah sangat kotor terkena lumpur selama melewati hutan tropis Pulau Sempu, akhirnya aku buru-buru mandi di Segara Anakan ini. Setelah mandi, satu hal yang nggak boleh sama sekali dilewatkan adalah foto-foto hehee… Berbagai macam gaya kami berempat lakukan, dari yang so(k) cool, waktu lagi mandi, lompat indah sampai gaya-gaya aneh lainnya.

ehm, sempet numpang pipis

ehm, sempet numpang pipis

berbagai macam gaya

berbagai macam gaya

Akhirnya, sekitar jam empat sore, kami harus beranjak dari salah satu surga dunia ini. Keputusan untuk pulang diambil karena kami nggak bawa perlengkapan apapun, baik itu baju, tenda, bahkan air minum atau makanan. Bahkan aku terpaksa mengisi botol minum kami sebelum pulang dari hasil menebalkan muka demi meminta air minum pada seorang pengunjung di sana. Miris, bukan? Selain itu, kami juga sudah berencana untuk mengunjungi destinasi lain esok subuhnya.

Bayangkan saja, baru beberapa saat menikmati keindahan alam Segara Anakan, kami sudah harus berjuang melewati medan yang sama seperti sewaktu berangkat. Dan jeng jeng jeeenngg… Di sinilah perjuangan dan pengalaman yang baru lagi dimulai. Jalur yang kami lewati saat berangkat tadi, rasanya semakin berat. Entah kenapa aku merasa kalau medannya semakin susah dilalui karena becek, berlumpur, dan semakin licin. Beberapa kali aku bahkan sempat jatuh dan badanku kembali dipenuhi lumpur basah, kakiku juga tergores akar-akar pohon yang tak terlihat karena terendam lumpur.

Di tengah perjalanan, kami sempat bertemu dengan beberapa pengunjung yang mau menuju Segara Anakan. Mereka sempat keheranan melihat kami berempat yang baru kembali padahal hari sudah mulai gelap. Mereka bahkan menyarankan agar kami kembali saja ke Segara Anakan dan menginap di sana. Mereka khawatir kalau kami berempat nggak bakal sempat menemukan boat untuk menyeberang. Deg! Omongan-omongan ini malah makin membuatku resah setengah mati. Tapi lagi-lagi, aku tak mau menunjukkannya di depan teman-temanku. Setelah berhenti sejenak untuk berdiskusi, akhirnya kami memutuskan untuk terus melangkah melanjutkan perjalanan pulang kami.

Setelah beberapa saat, kami berempat semakin terseok-seok berjalan karena hari makin gelap. Aku bahkan sampai harus merangkak karena hampir tak bisa melihat jalanan berlumpur yang kami lewati. Biarlah seluruh badan kotor penuh lumpur asal cepat sampai, pikirku. Parahnya lagi, kami sama sekali tidak membawa senter atau alat penerangan lainnya yang bisa kami jadikan bantuan untuk melihat jalur yang ada di depan kami.

Lagi-lagi temanku, Dani, menjadi pahlawan di perjalanan kali ini. Dia membawa handphone yang ada fitur senter kecilnya. Ini sedikit melegakan karena akhirnya ada sedikit cahaya yang bisa menuntun kami menemukan jalur yang harus kami lewati di depan. Jadilah Dani yang kami suruh berada paling depan agar bisa menerangi jalan menggunakan senter dari handphone-nya. Tapi, walaupun begitu, Dani tetap meminta pendapatku tiap kali memilih jalan yang harus kami lewati.

HP Huawei Penyelamat

HP Huawei Penyelamat

“Kanan atau kiri, nih?” tanya Dani saat kami menemukan belokan.

“Lurus!” kataku.

“Yakin?” tanya Dani ragu.

“Iya, lurus aja!” jawabku sok yakin, padahal aku sendiri juga setengah ragu apa jalan yang kami lalui ini benar.

Saat Dani memimpin mencari jalur yang harus kami lewati, aku sempat melihat Andri memberi tanda-tanda di tiap jalan yang sudah kami lewati. Dia hanya ingin memastikan kami tidak melalui jalan yang sama. Kadang aku merasa sedang berada dalam sebuah pembuatan film, aku harap ini sebuah reality show tapi sayangnya ini nyata.

Berdasarkan info yang kudengar, jalur yang ada di dalam hutan tropis Pulau Sempu ini nggak cuma satu. Ada beberapa jalur yang bisa dilewati, sebagian memang sudah menjadi jalur yang biasa dilewati pengunjung, dan sebagian lagi semacam jalur yang masih tertutup ranting-ranting pohon. Konon katanya, ada juga jalur berbahaya yang tidak boleh dilewati. Kalau sampai kita salah memilih jalur, bisa-bisa kita akan dibawa menuju sebuah sarang ular atau bahkan menuju suatu jurang curam yang langsung menghadap ke Pantai Selatan dengan ombak yang sangat besar. “Semoga saja kami nggak salah jalur”, kataku dalam hati.

Suasana perjalanan kami pun rasanya semakin mencekam saat hujan tiba-tiba turun. Perasaanku semakin nggak karuan, antara capek, takut, khawatir, pokoknya campur aduk banget! Temanku, Esa, mendadak jadi pendiam. Aku tahu kalau kami semua ketakutan, tapi kami sama-sama tak mau memperlihatkannya karena tak mau memperparah suasana yang sudah mencekam itu. Hari semakin gelap dan dingin, kami tak bisa melihat sekeliling lagi. Kanan-kiri gelap, bahkan wajah teman-temanku pun tak bisa kulihat. Satu-satunya cara agar kami tak kehilangan jejak satu sama lain adalah saling memanggil nama kami satu persatu. Ingin rasanya kami berlari sekencang-kencangnya agar cepat keluar dari hutan ini. Tapi apa daya, hujan dan jalanan yang berlumpur memperlambat langkah kami.

Dari kami berempat, Esa-lah yang paling aku khawatirkan. Dia tiba-tiba nggak mengeluarkan suara sama sekali. Aku takut kalau-kalau dia “digondol” atau dirasuki “penghuni” hutan. Aku beberapa kali memanggil-manggil namanya dan mengajaknya ngobrol, hanya untuk memastikan dia masih bersama kami dan masih dalam keadaan sadar. Beberapa saat kemudian, akhirnya dia menyahut. Aku sedikit lega.

Sejam berlalu, kami belum juga menemukan jalan keluar dari hutan itu. Dani kelihatan semakin panik dan ketakutan. Dia mulai teriak-teriak minta tolong, tapi nggak ada suara lain selain suara kami berempat. Dani pun meminta kami semua membaca kalimat syahadat keras-keras berkali-kali. Kami pun menurutinya. Sampai akhirnya aku melihat ada pohon-pohon besar yang tumbang di depan kami. Ya Allah, apa lagi ini? Seingatku, pohon-pohon tumbang ini nggak ada sewaktu kami berangkat tadi. Apa kami salah jalan? Apa aku salah arah? Gimana kalau ternyata kami salah jalur? Harus ke mana lagi ini? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu makin menghantui pikiran dan hatiku.

Diantara pikiranku yang diliputi ketakutan, aku mendengar isakan tangis Dani. Aku yakin dia jauh lebih ketakutan dariku. Karena tak mau memperparah keadaan, aku mencoba menenangkan Dani. Jauh di lubuk hati, aku yakin kami bisa keluar dari tempat itu. Tapi hari semakin gelap, sedang kami masih saja seperti berputar-putar di dalam hutan seperti berada dalam sebuah labirin. Kulirik jam tanganku dan ternyata sudah jam 7.30 malam. Aku malah makin cemas. Seharusnya sudah sejam yang lalu kami sampai di tempat pemberhentian boat. Hujan juga tak kunjung berhenti, kami semua sudah semakin kedinginan dan lelah. Tak seorang pun dari kami yang membawa jaket.

Kami memutuskan istirahat sebentar di balik pohon-pohon besar yang tumbang tadi. Esa kembali membisu, sedang Andri masih sempat-sempatnya bilang kalau dia mengantuk. Aku melihat sekeliling, dan tiba-tiba secara nggak sengaja, mataku melihat semacam cahaya aneh yang makin lama kulihat makin berbentuk seperti rambut. Deg! Aku langsung mengalihkan pandangan mataku. Aku cuma bisa diam, nggak berani menceritakannya pada teman-temanku.

Aku lelah dan haus. Air minum kami sudah habis. Kutengadahkan mulutku untuk menangkap air hujan sambil bersandar di antara batang pohon yang tumbang itu, dan mencoba tidur. Beberapa saat memejamkan mata, tak juga bisa tertidur. Waktu aku melihat ke arah langit, lagi-lagi aku melihat ada yang meloncat-loncat dari satu pohon ke pohon lainnya. Aku meruncingkan mata, tapi entah makhluk apa itu. Cuma bayangan gelap yang bisa kulihat mungkin seekor monyet, aku pun mengalihkan pandangan.

“Kita nggak boleh istirahat terus di sini. Kita harus tetep jalan, diam kayak gini malah makin berasa dingin,” Esa akhirnya buka suara. Dan aku rasa dia memang benar, aku diam-diam mulai menggigil kedingingan. Sebelum melanjutkan perjalanan, Esa mengeluarkan Blackberry-nya. Dan akhirnya signal sudah mulai tertangkap. Segera saja kami menelpon nakhoda boat dan meminta pertolongannya. Sambil menunggu dia datang, kami melanjutkan perjalanan sambil terus teriak-teriak minta tolong. Sampai akhirnya, ada seseorang yang mendengar teriakan kami. Dia ternyata juga salah seorang nakhoda boat yang sedang mencari pengunjung yang juga tersesat di hutan, sama seperti kami berempat. Katanya ada dua orang perempuan dan seorang laki-laki yang masih belum juga ditemukan di dalam hutan tersebut.

Dengan bantuan seorang nakhoda yang menemukan kami, akhirnya kami dibawanya keluar menuju tempat pemberhentian boat. Tak jauh dari situ, nakhoda yang menyetir boat yang kami tumpangi sudah menunggu dengan cemas. Ternyata jalur yang kami lewati tadi sudah benar. Jalur yang ada pohon-pohon tumbang itu adalah jalur bawah, sedangkan jalur awal sewaktu berangkat itu adalah jalur atas. Pantas saja tak ada pohon-pohon tumbang itu sewaktu kami berangkat, ternyata kami melewati dua jalur berbeda. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa keluar dari hutan tropis yang menyeramkan itu. Segeralah kami menaiki boat dan menyeberang pulang.

Berkali-kali aku mengucap syukur atas pengalaman luar biasa dan takkan terlupakan ini. Bersyukur karena akhirnya kami berempat selamat, walaupun kakiku terluka akibat berkali-kali tergores akar pepohonan yang terendam lumpur. Tak apalah, demi pengalaman baru yang didapat dari traveling kali ini.

Story by Ario Irdani Ardian

Written by Mariana Anggraeni