Le Grand Voyage: Taman Nasional Baluran dan Kawah Ijen

Dhanie, seorang “monyet”, sahabat sejati dari SMA, akan menikah dengan Puput. Aku dan temanku Mangga diminta untuk menjadi “Among Tamu a.k.a Pager Bagus/Ayu” dalam acara pernikahan mereka yang akan dilangsungkan di Situbondo pada tanggal 14 Juli 2012.

Bukan Ario Irdani Ardian namanya kalau tidak ada ide-ide traveling yang brilliant, dan tentu saja aku tidak mau melewatkan kesempatan ini. Aku terima tawaran Dhanie, kemudian aku cek wisata apa saja yang terdekat dengan Kota Situbondo. Terpilihlah Taman Nasional Baluran dan Kawah Ijen.

Aku dan Mangga segera membuat itinerary perjalanan ke TN Baluran dan Kawah Ijen, karena waktu yang tersedia tidaklah banyak, hanya Sabtu dan Minggu saja. Kemudian kami memikirkan bagaimana cara untuk kesana.

Itinerary Trip TN Baluran & Kawah Ijen

Itinerary Trip TN Baluran & Kawah Ijen

Setelah diskusi panjang, akhirnya aku memutuskan untuk meminjam mobil ayahku. Dan tanpa diduga, ternyata ayahku juga sangat ingin pergi ke Kawah Ijen. So, teman perjalanan kali ini adalah: Mangga, ayah dan mama. Can’t hardly wait!😀

A: Kawah Ijen, B: TN. Baluran

A: Kawah Ijen, B: TN. Baluran

Setelah menunggu selama sekitar sebulan, tibalah waktunya. Jumat sore, 13 Juli 2012, sepulang dari kantor, aku memasukkan semua pakaian yang malam sebelumnya kubiarkan berserakan di atas kasur ke dalam koper butut satu-satunya yang kupunya. Banyak sekali pakaian yang kubawa kali ini. Sengaja kubawa yang pakaian-pakaian yang lama tidak kupakai untuk dibawa kembali ke Malang.  Sementara pakaian yang akan kugunakan selama perjalanan nanti, sengaja kupisahkan dan kemudian kumasukan ke dalam tas punggungku. Akhirnya semua sudah tersusun rapi. Ada 3 tas yang akan kubawa: 1 koper berisikan pakaian tak terpakai yang akan kukembalikan ke Malang, 1 tas punggung berisikan pakaian yg akan kupakai selama perjalanan nanti, dan 1 tas slempang berisikan kamera.

…………………………..

30 menit sudah kumenunggu taksi, namun tak kunjung datang. Semua yang lewat sudah terisi penumpang. Mencari taksi di Jakarta pada Jumat malam memang sama seperti mencari pacar yang setia, susahnya minta ampun. Aku mulai panik, aku tak mau kejadian ditinggal pesawat sewaktu aku akan pergi ke Balikpapan terulang lagi. Akhirnya lewatlah seorang abang ojek menawarkan tumpangan kepadaku. Aku memintanya mengantarkanku ke pangkalan Damri di Stasiun Gambir. Karena teringat bahwa uang didompetku hanya ada tujuh lembar uang ratusan ribu yang baru saja kuambil saat pulang kantor tadi, aku berpikir untuk menukarkan agar bisa membayar ojek dengan uang pas. Akhirnya aku minta si abang ojek untuk berhenti sebentar di Sevel.

“Jgn lama-lama mas!” kata si abang ojek.

“Iye, paling cuma 5 menit,” gumamku.

Kutinggalkan koperku bersama si abang ojek. Setelah membeli slurpee, aku segera keluar dari Sevel. Tapi begitu keluar, aku tak lagi melihat “penampakan” si abang ojek beserta KOPERKU.

Ya, koperku lenyap…
Kepanikan melanda…
Aku lemas…

Sepanjang perjalanan ke Bandara, di dalam Damri, aku hanya bisa melamun atas keteledoran tanpa batasku itu samnil terus mengingat-ingat barang apa saja yang ada di dalam koper tersebut. Jaket yang akan kugunakan nanti di Kawah Ijen pun turut lenyap, jaket kesayanganku. Sesaat kemudian aku teringat, “Aku kan mau jalan-jalan, aku mau senang-senang, nggak boleh galau, ayo happy, senyum, lupakan, ikhlaskan!”

……………………

Kulihat Mama berdiri sendiri di depan pintu kedatangan di Bandara Juanda, waktu itu sekitar pukul 23.30.

“Sudah menunggu berapa lama ya Mama?” dalam hatiku bertanya, yang kemudian kutanyakan padanya.

“Baru aja kok nak,” katanya, walau ku rasa, pasti beliau sudah lama menungguku.

Mama sengaja menyuruh Ayahku menunggu di mobil dan tidur terlebih dulu karena beliau yang akan menyetir mobil selama perjalanan yang akan sangat panjang ini nanti.

Mobil hitam Rush yang selalu kelihatan bersih itu akhirnya datang menjemputku dan mama. Walaupun usianya sudah berkepala enam, Ayah dan Mamaku tetap terlihat bersemangat. Aku lihat di dalam mobil bagian belakang sudah terisi penuh dengan makanan, minuman, sampai peralatan naik gunung seperti senter, termos air panas, dll. Hobi traveling-ku ini mungkin memang menurun dari mereka berdua. Bagiku, traveling bersama mereka bagai sebuah perjalanan besar yang selalu aku rindukan. Kami sudah beberapa kali melakukan perjalanan besar dengan menggunakan mobil, dari Lhokseumawe ke Malang, dari Malang ke Lombok, dan kali ini dari Malang ke Situbondo.

Hebatnya, Ayahku tahu kalau ada yang sedang tidak beres. Beliau bisa melihat kejanggalan dariku. Begitu di dalam mobil dan baru saja jalan sekitar 1 menit, beliau sudah menanyakan mana kopernya. Duh. Aku hanya diam, tak sanggup menjawab. Mama yang sudah kuceritakan kejadian sebenarnya, akhirnya membuka suara. Mama menceritakan semua kejadian yang kualami kepada ayah. Awalnya ayah sedikit marah, tapi setelah kuberitahu bahwa isi koper yang berharga hanya jaket, lama-kelamaan suasana kembali tenang.

Teringat kembali, “aku ke sini kan mau jalan-jalan, aku mau senang-senang, nggak boleh galau, ayo happy, senyum, lupakan, ikhlaskan!” hiburku dalam hati.

……………………..

Jam 1.00
Di Alun-Alun Kota Bangil. Kutelepon Mangga, namun tidak ada respon. Padahal sudah kuminta dia untuk segera berangkat ke sini, tapi batang hidungnya pun belum terlihat. 5 menit setelah kumenunggu, akhirnya dia datang juga diantar oleh ayahnya dengan sepeda motor. Setelah berbincang-bincang sedikit dengan ayahnya, kami-pun melanjutkan perjalanan menuju Situbondo. Aku minta ayah untuk berhenti makan terlebih dahulu apabila menemukan rumah makan, aku belum mengisi perut semalaman ini. Tak berapa lama aku-pun tertidur.

Jam 2.30
Aku dibangunkan oleh Mangga, dia mengatakan kalau kami sudah sampai di Probolinggo. Mama yang setia menjadi navigator ayah selama perjalanan bilang kalau di Probolinggo ada sebuah rumah makan yang buka 24 jam. Mama bercerita kalau mereka pernah ke sana sebelumnya saat pergi traveling ke Bromo bersama teman-temannya beberapa bulan yang lalu. Ayah membelokkan mobilnya ke kanan, ke tempat parkiran rumah makan yang dimaksud. Kulihat nama rumah makan tersebut “Depot Kencur”. Rumah makan yang cukup ramai didatangi pengunjung ini menyuguhkan arsitektur aksen jawa dengan pajangan lukisan cukup banyak mulai dari yang kecil sampai raksasa. Nasi rawon menjadi pilihanku, Ayah, dan Mama, sedangkan Mangga memilih untuk menghabiskan nasi soto betawi.

Makan Dini Hari di Depot Kencur Probolinggo

Makan Dini Hari di Depot Kencur Probolinggo

Jam 5.00
Aku dibangunkan lagi oleh Mangga, kulihat mobil berhenti di depan sebuah masjid besar, Mama dan Ayah masih di kursinya, dan masih terjaga.

“Kita sudah sampai di kota Situbondo, ayo subuhan dulu,” kata Ayah.

Sambil ngelap sisa-sisa iler di mulut dengan kaosku aku keluar dari mobil. Wusssh… Tak kusangka udara pagi Situbondo sesejuk ini. Kuambil wudhu, kemudian sholatku. Selesai sholat kami berempat sedikit melakukan debat kusir di dalam mobil, ke mana perjalanan akan dilanjutkan. Tentu saja ke Taman Nasional Baluran. Menurut itinerary yang kubuat bersama Mangga, untuk menuju TN Baluran dari Kota Situbondo memerlukan waktu sekitar kurang lebih 2 jam dan melewati 21 desa. Yap, 21 DESA! Karena perjalanan masih sangat jauh, aku minta Ayah untuk beristirahat dan kugantikan menyetir mobil, tapi beliau menolak.

“Semoga Allah selalu memberikan kesehatan kepada Ayah,” kataku dalam hati.

Jam 6.30
“Anda memasuki Taman Nasional Baluran”, kubaca sebuah papan baliho raksasa bertuliskan kalimat tersebut. Suasana Afrika segera menyergap indera penglihatanku. Hutan mangrove, Hutan kering dan hutan rawa silih berganti menjadi pemandangan kami. Kanan-kiri jalan yang terlihat hanyalah hutan-hutan tersebut.

Taman Nasional Baluran

Taman Nasional Baluran

Kemudian sampailah kami di gerbang masuk TN Baluran yang berjarak sekitar 10 Km dari baliho tersebut. Kami harus mengeluarkan kocek di gerbang masuk ini sebesar Rp. 6000 per mobil dan Rp. 2500 per orang. Kawasan TN Baluran terletak di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur. Batas wilayah sebelah utara adalah Selat Madura, sebelah timur Selat Bali, sebelah selatan Sungai Bajulmati, dan sebelah barat Sungai Klokoran. Luasnya mencapai 25.000 ha. Di tengah kawasan ini terdapat Gunung Baluran yang sudah tidak aktif lagi. Padang Savana yang luas dengan beberapa kelompok rusa, pemandangan gunung Baluran di ujung sana dan teriknya matahari membuatku seperti sedang berada di Benua Afrika.

Hutan Hujan Tropis TN. Baluran

Hutan Hujan Tropis TN. Baluran Bersama Ayah, Mama & Mangga

TN Baluran

Suasana Afrika-nya Indonesia: TN Baluran

Sayang sekali kami tidak sampai ke Pantai Bama untuk melakukan kegiatan favoritku, snorkeling, karena kami harus segera kembali ke Situbondo ke acara inti kami sebenarnya, Pernikahannya Dhanie dan Puput.

Jam 09.00
Setelah puas, kami pun kembali menuju kota Situbondo. Dalam hati aku berkata, “Aku harus datang kembali ke sini untuk snorkeling.”

Jam 11.00
Kami tiba di penginapan Hotel Rosali, Situbondo. Mungkin ini salah satu hotel ternama yang ada di Situbondo, kami memesan 1 kamar untuk 1 malam seharga Rp. 190.000. Akhirnya kami pun beristirahat.

Jam 13.00
Saya sudah ganteng dan siap untuk datang ke rumahnya Puput, namun apa dikata, Mangga masih mengorok. Huff! Kubangunkan dan kusuruh dia untuk cepat-cepat ganti pakaian, karena Puput dan Dhanie meminta kami untuk stand-by di rumahnya Puput jam 13.30. Sesampainya di rumah Puput, Mangga langsung dirias khas mbak-mbak pager ayu, sedangkan aku lholak-lholok menunggu hingga jam 17.00. Sampai pada akhirnya, aku pun diberikan seragam “Basofi-an” oleh mbak-mbak yang menjadi perias pengantin pernikahan Dhanie-Puput.

Acara Pernikahan Dhanie-Puput

Acara Pernikahan Dhanie-Puput

Jam 18.00
Acara resepsi pernikahan Dhanie dan Puput dimulai. Di sana aku bertemu dengan teman virtual yg selama ini hanya bercakap-cakap di Twitter saja, Mas Mahar. Namun sayang sekali, tidak sempat bertatap muka langsung dengan teman virtual-ku lainnya, Mbak Riska. Mungkin lain kali ya mbak, nggak apa-apa kan? Bisa sabar kan?😀

Jam 21.30
Acara resepsi selesai, aku dan Mangga kembali ke Hotel Rosali dengan menaiki becak. Tarikk Paaakk!

Jam 23.30
Setelah check-out dari Rosali Hotel, kami melanjutkan perjalanan besar ini ke Kawah Ijen. Menurut itinerary, perjalanan ke Kawah Ijen dapat ditempuh dengan menggunakan mobil selama 3 jam sampai di Patulding dengan melewati Desa Wonosari, Sempol, dan Tapen. Dari Patulding, kami masih harus berjalan kaki selama 2 jam untuk menuju Kawah Ijen. Mama bersemangat untuk ikut naik sampai di Kawah Ijen.

“Baiklah kita lihat bagaimana nanti”, kataku dalam hati.

………………………….

1 jam perjalanan pertama ditempuh dengan mulus, lalu kami memasuki kawasan hutan belantara antah berantah yang mungkin jarang dilewati oleh orang. Sungguh sangat sepi, kanan kiri hutan dan jalanan rusak berbatu. 5 menit pertama suasana di mobil masih hening. Sambil berpegangan kursi aku membaca doa agar dapat sampai di tujuan dengan selamat. 15 menit kemudian jalanan pun tidak kunjung membaik, malah semakin rusak dan berbatu besar. Ayah mulai was-was, ayah mulai khawatir terhadap mobil kesayangannya. Setelah berjalan selama 45 menit, jalanan masih tetap rusak. Kami di dalam hanya bisa diam mendengarkan ayah yang resah dan khawatir.

Jalanan Rusak Sempol

Jalanan Rusak Sempol

“Bagaimana ini? Apa kita teruskan saja perjalanan ini dengan jalan yang begini, atau balik saja?” Ayah mulai berkata demikian.

Aku tahu itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan bahwa Ayah ingin kita balik saja karena jalanan tidak kunjung membaik. Dan beberapa menit kemudian, Ayahku pun menghentikan mobilnya.

“Oke, balik saja deh Yah, nanti di perkampungan terakhir di sana biar kami menyewa sepeda motor saja kalau ada,” kataku pada Ayah.

“Iya kalau ada,” kataku dalam hati.

Sedikit lemas juga sebenarnya, sudah sejauh ini tapi harus memutar balik. Tapi yasudahlah, akhirnya aku, Mangga, dan Mama turun dari mobil untuk menuntun ayah membalikkan mobilnya. Cukup sulit juga memutarkan mobil, karena jalanan gelap, rusak berbatu dan sempit.

Tidak selang berapa lama setelah mobil hampir saja berhasil berputar, Mangga melihat ada cahaya di belakang kami.

“Ada sepeda motor lewat!” katanya.

Akhirnya kami bertanya kepada orang tersebut mengenai perjalanan ke Kawah Ijen.

“Masih jauh Bu, masih sekitar 1,5 jam lagi, tapi 1 Km di depan jalanan sudah bagus kembali kok, mari saya tuntun,” katanya kepada Mama.

Akhirnya mobil tidak jadi berputar arah, perjalanan ke Patulding tetap dilanjutkan. Aku mengucap syukur dalam hati. Terima kasih, Bapak Bersepeda Motor.

Memang benar, tidak sampai 5 menit jalanan menjadi mulus, namun semakin menyempit. Untung saja ada Bapak Bersepeda Motor itu, kalau tidak, kami sudah berputar arah dan Kawah Ijen semakin jauh dari harapan.

Kami tetap mengikuti si Bapak Bersepeda Motor. Tidak lama kemudian, sampailah kami di Pos Penjagaan I. Memang menurut info yang kami cari, terdapat 3 pos penjagaan selama perjalanan ke Patulding. Aku turun bersama Mangga, dan mengisi buku tamu. Kulihat sudah ada 2 mobil yang sudah terlebih dahulu mendahului kami sektitar 1-2 jam yang lalu. Kulihat ada tumpukan uang juga di samping buku tamu tersebut.

“Biaya administrasinya berapa, Pak?” tanyaku lugu.

“Seikhlasnya mas saja,” katanya.

Kuberikan Rp. 15.000 kepadanya. Sambil bertanya berapa jauh lagi perjalanan kami.

“Masih sekitar 25 Km lg, Mas!” katanya.

Begitu masuk mobil, segera kulaporkan kepada Ayah kira-kira berapa jauh lagi perjalanan ini.

Perjalanan dilanjutkan, dan Bapak bersepeda motor tetap menuntun kami di depan. Kulihat di sebelah kanan dan kiri, kami melewati kebon kopi milik PTPN. Luar biasa indahnya!

Setelah kira-kira berjalan sejauh 17 Km, kami pun sampai di Pos Penjagaan II.  Di sana, kami juga mengisi buku tamu, namun tidak perlu membayar biaya administrasi. Bapak bersepeda motor berpamitan di sini, karena rumahnya di sekitar sini dan berbeda arah dengan tujuan kami. Aku pun turun dari mobil dan bermaksud berterima kasih dan memberinya sedikit uang, namun ternyata beliau menolak secara halus. Wah, masih ada ya orang yang membantu dengan ikhlas dan tanpa pamrih. Tiba-tiba teringat si abang ojeng di Jakarta yang kampretos itu. Ups!

Setelah melawati pos penjagaan kedua, tibalah kami di sebuah desa bernama Sempol. Mataku pun tertuju pada sebuah Neon Box di pinggir jalan. Sebuah Neon Box yang familiar di mataku.

“Luar biasa ada BRI Unit di sini!” kataku bangga dan sedikit pamer kepada seisi mobil.

Sekali lagi aku bangga menjadi insan BRI yang memiliki jaringan terbesar dan tersebar di seluruh Indonesia! Aku tersenyum penuh kemenangan hahaha..

Di Pos Penjagaan III, kami kembali berhenti untuk mengisi buku tamu lagi. Di sini ternyata kami juga diminta memberikan “biaya administrasi” seikhlasnya. Aku memberikan 2 lembar uang Rp. 5000 kepada si Bapak penjaga. Menurut si Bapak, jarak ke tempat pemberhentian mobil masih sekitar 7 Km lagi. Kami pun melanjutkan peralanan. Jalanannya mulus, namun semakin lama semakin menyempit bahkan hanya dapat dilalui oleh 1 mobil saja.

“Gimana kalau ada mobil dari arah berlawanan ya?” tanya Mangga tanpa ada yang menjawab.

Eh.. Tidak begitu lama, ada mobil lewat dari arah berlawanan.

“Ah, dasar Mangga!” hardikku dalam hati.

Jam 03.00
Tiba di Patulding, aku, Mama, dan Mangga bersiap-siap membawa perlengkapan untuk naik gunung. Aku membawa tas punggung berisi 4 botol minuman dan berbagai macam makanan. Aku tak mau kejadian Sempu terulang lagi. Ayah sengaja tidak ikut mendaki, beliau beristirahat sambil menunggu di mobil. Mangga kuminta membawa tas berisi 2 kamera. Senter sudah menyala di tangan kananku. Tapi sebelum mendaki, kami harus mendaftar lagi. Di sini juga membayar Rp 5000 per orang dan Rp. 5000 per mobil. Sebenarnya membawa kamera juga dikenakan biaya, tapi karena aku tidak tahu dan tidak diminta biaya tambahan kuanggap saja ini rejeki ku hehe.

Aku meyakinkan kembali apakah Mama sanggup untuk ikut.

“Tenang aja, mama bisa.. Semangat!” katanya menyemangati diri sendiri.

Baiklah, aku pun menggandengnya berjalan menyusuri jalan setapak, sedangkan Mangga berada di sisi kirinya. Kami ditemani oleh seorang Bapak pekerja pengangkut belerang sebagai penunjuk arah kami. 15 menit pertama jalan masih sedikit landai, kami masih mudah melaluinya. Melalui tanjakan pertama aku lihat Mama dan Mangga sudah mulai ngos-ngosan.

“Oh Tuhan, ini baru tanjakan pertama, mereka sudah minta istirahat. Mau sampe jam berapa di Kawah Ijen?” omelku dalam hati.

Mangga minta duduk terlebih dahulu, sedangkan mama minta dianterin pipis. Haduuh..

Setelah beristirahat 5 menit, perjalanan kami lanjutkan. Setelah tanjakan kedua lagi-lagi Mangga minta istirahat. Sudah habis kesabaranku! Menurutku, semakin banyak berhenti, semakin cepat kita merasa capek. Aku gandeng mamaku, aku tinggalkan Mangga bersama si Bapak Pembawa Belerang. Pada awalnya, kami masih saling sahut-menyahut. Lama-kelamaan, suara Mangga sudah tidak terdengar.

“Semoga dia aman di alamnya bersama si Bapak Pembawa Belerang,” dalam hatiku.

Mamaku inginnya menunggu Mangga, namun aku minta untuk menunggunya di Kawah Ijen saja.

“Semoga dia sampai di Kawah Ijen, awas saja kalau enggak!” hardikku dalam hati.

Tanjakan demi tanjakan kulalui bersama mama. Mama sudah mulai terlihat ngos-ngosan. Setiap tanjakan kuusahakan selalu berhenti 1 menit terlebih dahulu untuk mengambil nafas. Kudorong mama dari belakang, atau kadang kutarik lengannya agar memperingan langkahnya. Tanjakan demi tanjakan berlalu, namun Kawah Ijen masih belum terlihat. Kami bertemu dengan beberapa pendaki lainnya, mereka mengatakan bahwa perjalanan masih jauh. Masih setengah perjalanan lagi, katanya. Bujubuneng!

Hampir 1,5 jam perjalanan, namun Kawah Ijen masih jauh di pelupuk mata. Mama yang terlihat ngos-ngosan terus menyemangati dirinya sendiri.

“Semangat, aku pasti bisa!” teriaknya.

Kadang aku melihat diriku dalam dirinya. Kalau sudah kemauannya, tidak pernah bisa ditolak haha.. Melihat mamaku yang masih bersemangat, aku pun juga semakin bersemangat. Jujur, aku juga sudah mulai kelelahan. Akhirnya kami sampai pada sebuah pondok kantin tempat pemberhentian para pembawa belerang. Kami berdua menumpang duduk sebentar. Aku membuka Ring-O yang ada dalam tasku, dan kuberikan mama sebotol Aqua.

Tiba-tiba aku teringat Mangga, bagaimana dengan nasibnya ya?

Lalu, aku pun sempat bertanya kepada pendaki yang juga baru sampai di pondok, “Mas, lihat seorang anak cewek berjilbab bersama seorang Bapak pembawa belerang di bawah sana?”

“Oh iya Mas, masih duduk di bawah mereka. Jauh sekali, Mas. Tapi mereka tetep jalan ke atas kok,” katanya.

Jauh sekali? Ckckck.. Anak usia 25 tahun kalah dengan Mama yang usianya 61 tahun. Hihi.. bisa jadi bahan cemoohan nih ntar. Ide usilku pun keluar.

Setelah istirahat selama 15 menit, Mama mengajakku untuk melanjutkan perjalanan. Wah, semangat juga si Mama.

Hari masih gelap, namun perjalanan masih saja terus menanjak. Kulihat angka di jam tanganku menunjukkan jam 5 lebih. Artinya sudah 2 jam lebih kami berjalan, namun belum ada tanda-tanda penampakan Puncak Gunung Ijen. Padahal menurut itinerary, perjalanan dari Patulding ke Kawah Ijen memakan waktu 2 jam.

“Hmm.. mungkin sebentar lagi, karena tadi kan banyak berhenti dan istirahatnya,” kataku dalam hati.

Setelah pondok kantin tadi, kami harus trekking melewati jalanan setapak yang semakin sempit. Sebelah kiri kami adalah tebing, sedangkan sebelah kanan jurang. Aku dan Mama tidak lagi bisa jalan bergandengan, mau tak mau kami harus jalan satu-satu. Aku jalan 10 langkah lebih dahulu, lalu aku menyorotkan senter ke arah Mama agar beliau dapat melihat jalan, begitu seterusnya. Kulihat juga ada beberapa spanduk-spanduk yang terbuat dari kayu, yang berisi tulisan: “Anda memasuki Lokasi Berbahaya”.

“Wah, bahaya kenapa ya?” tanyaku dalam hati.

Atas: Tanda Bahaya, Bawah: Pondok Pemberhentian

Atas: Palang Kayu Tanda Bahaya, Bawah: Pondok Pemberhentian

Jam 05.45
Matahari mulai menampakkan dirinya di ufuk timur, kesempatan untuk melihat sunrise di Puncak Gunung Ijen pupus sudah. Ntah berapa lama lagi perjalanan ini. Tapi, perjalanan yang sebelumnya menanjak, lama-lama sudah mulai landai. Pemandangan mulai dapat terlihat. Subhanallah, indahnya luar biasa sekali! Kami seperti berada di negeri atas awan. Awan yang berada di bawah kami, menutupi jurang yang terdapat di sebelah kanan kami. Gunung-gunung nun jauh di sana juga mulai terlihat, langit biru cerah, udara segar pegunungan, tumbuh-tumbuhan hijau subur pun menghiasi indera penglihatanku. Rasa capek berjalan selama 2 jam lebih sirna begitu saja, semuanya tergantikan dengan keindahan alam yang sedang kulihat.

Indahnya Pemandangan dari Puncak Kawah Ijen

Indahnya Pemandangan dari Puncak Kawah Ijen

Bergaya di Sekitar Kawah Ijen

Bergaya di Sekitar Kawah Ijen

Mama menggandeng tanganku, mengajakku segera berjalan mendekati Kawah Ijen, tujuan utama kami. Rupanya Mama sudah tidak sabar lagi untuk sampai di sana. Aroma belerang yang tak biasa juga mulai terasa. Kuminta Mama untuk memasang masker agar tidak terhirup asap belerang. Langkah-langkah juga terasa semakin ringan, hingga sampailah kami di tujuan utama: KAWAH IJEN! Aku mengucapkan syukur karena akhirnya sudah sampai di tujuan ini. Aku juga salut dengan usaha Mamaku yang berhasil mencapai puncak. Kurangkul Mamaku, kunikmati indahnya pemandangan Kawah Ijen bersamanya.

Ini Dia Kawah Ijen-nya!

Ini Dia Kawah Ijen-nya!

Bersama Mama sampai di Puncak Kawah Ijen

Bersama Mama sampai di Puncak Kawah Ijen

Jam 06.30
Aku melihat dari kejauhan seorang Bapak pembawa belerang, beserta seorang anak gadis berjilbab ginuk-ginuk jalan tergopoh-gopoh untuk mencapai Puncak. Aha! Aku mengenal gadis ber-jamper kuning itu.

Aku lari menghampirinya dan segera kucemooh dirinya, “Akhirnya sampai juga di Puncak Kawah Ijen…. Selamat ya…Oia bedanya 45 menit lho..”

Selama kurang lebih 1 jam kami menikmati pemandangan kawah ijen hingga akhirnya kembali turun ke Patulding. Perjalanan pendakian kami lalui selama 3 jam, sedangkan perjalanan turun kembali ke tempat parkir mobil, dapat kami lalui hanya dengan 1,5 jam saja!😉

Kawah Ijen

Kawah Ijen yang Luar Biasa

……………………

Jam 17.00
Di Bandara Juanda. Liburan usai, saatnya kembali bekerja di Jakarta. Dan aku banyak membawa oleh-oleh berharga untuk diceritakan.

…………………..

“Terima kasih, Ayah, atas kesabaran Ayah mengemudi mobil selama perjalanan. Tanpa Ayah, kami tidak mungkin sampai di Kawah Ijen.”

“Terima kasih, Mama, atas semangat dan kegigihannya sehingga sampai juga di Puncak Kawah Ijen. Really proud son, I am.”

“Terima kasih, Mangga, atas itinerary-nya. Walaupun ide awalnya berasal dariku.” :p

“Terima kasih, Dhanie dan Puput. Tanpa pernikahan kalian, nggak mungkin kami jauh-jauh datang ke Situbondo.”😀

 

PS: Cerita versi lainnya dapat kalian baca di: http://manggae.wordpress.com/2012/07/28/le-grand-voyage-yang-mengejutkan/