Mendadak Model

Senin siang itu, 10 September 2012, aku memang sedang banyak kerjaan di kantor sehingga Dakocan tidak sempat kulirik. Sampai pada akhirnya aku sempat melihat si Dakocan dan ternyata ada beberapa blackberry message yang menanti untuk segera dibaca dan salah satunya dari mbak Elis Yusuf.

“Ario, kamu lagi sibuk gak?” (14:13)

“Aku mau minta tolong nih..” (14:14)

Kulihat jam tanganku sekarang sudah menunjukkan pukul 15:08. “Ahh, sudah hampir 1 jam yang lalu, kira-kira minta bantuan apa ya si mbak Elis?” tanyaku dalam hati.

Mbak Elis adalah temannya temanku, kami sempat bertemu 1 kali saat aku diajak temanku buka puasa bersama di daerah Kemang saat Ramadhan yang lalu. Saat itu, mereka sedang mengadakan reuni Group Traveling Ujung Genteng Trip.

“Iya mbak, ada yang bisa kubantu? maaf balasnya lama tadi lagi ada kerjaan mbak” balasku.

“aku mau minta tolong nih, ada temanku lagi cari model iklan bl*ckb*rry, mau nggak kamu kirim foto-foto kamu” kubaca 2x, lalu kubaca lagi. Kubaca 4x dan masih bingung.

“hah? ga salah mbak? kok aku?” tanyaku lugu.

“udah kirim aja foto-fotomu, yang banyak ya, aku tunggu! kamu kirim ke e-mail blablabla@blabla.com dan jangan lupa cc ke e-mail ku ya!” balasnya panjang.

Aku melongo, bengong, saat masih di kantor begini diminta untuk mengirim foto? Aku mencari foto-foto yang ada di Akun Facebook ku. Kupilih foto-foto yang menurutku paling oke, haha! akhirnya terpilih-lah tiga foto yang menurutku paling tampan x))

“Mbak Elis fotonya udah aku kirim tuh, semoga cocok ya..”

“Oke, aku lihat ya foto-fotonya, nanti tunggu aja kabar selanjutnya.”

“Siap mbak! makasih yak.”

Sebenarnya ada perasaan malu dalam hati, karena kebanyakan teman mencelaku kalau aku lebih “bagus” terlihat di foto daripada aslinya. Ya, aku tau kalau mereka sirik denganku yang berwajah tampan ini haha! x))

Tak lama kemudian terdengar lagi ada BBM yang masuk di Dakocan, dan nama Mbak Elis lagi yang muncul!

“Ario.. selamat ya, foto kamu diterima lho. Kamu bisa kan datang untuk pemotretan malam ini?”

Aku masih saja melongo, tidak percaya apa yang sedang kubaca. Sebenarnya ada rasa ingin menolak tawaran tersebut, tapi sudah terlanjur basah, tidak enak juga apabila aku menolak tawaran tersebut.

“Oke mbak Elis, aku kabur dari kantor sekarang.” balasku.

Kurapikan barang-barang di mejaku, kemudian aku minta ijin dengan Kepala Bagian untuk dapat pulang terlebih dahulu. FYI, walau ini sudah jam pulang kerja tapi di kantor tempatku bekerja jarang ada yang pulang sebelum maghrib. Pak Kabag pun mengijinkanku untuk dapat pulang duluan. Setelah absen aku langsung lari menuju kos-kosan untuk mandi dan membawa pakaian seperlunya.

“Mbak Elis, aku sudah di jalan, aku nanti menghubungi siapa di sana?” tanyaku dalam BBM pada mbak Elis.

“Hubungi saja Mbak Tita, ini pin bb nya! XXXXX” balasnya.

Di dalam taksi sambil mendengarkan musik dan menikmati kemacetan Jakarta aku duduk namun dalam hati masih merasa tidak keruan. Bagaimana kalau mereka nanti mengiraku seorang Office Boy yang ingin melamar pekerjaan di sana, bagaimana kalo nanti mereka mengusirku karena tidak sesuai dengan ekspektasi mereka.

“Ah bodo amat dah, ga jadi juga gpp, yang penting udah nyoba pengalaman baru” kataku untuk menguatkan hati sambil menirukan emote yang biasanya ada di BBM —> (Β  ˘_˘)9

Akhirnya sampai juga aku di studio tempat pemotretannya, lokasinya di sekitar daerah Cawang, Jakarta Selatan. Aku langsung menemui mbak Tita, tanpa ba-bi-bu aku langsung diberikan kostum untuk pemotretan.

“Oh oke kostum yang akan digunakan cukup funky juga..” kataku dalam hati.

Setelah aku memakai kostum, aku langsung diminta untuk masuk ke dalam ruang pemotretan. Kulihat ada 4 model lainnya yang sedang menunggu untuk di foto, sedangkan 1 model lainnya sedang bergaya di depan kamera. Fiuh aku mulai jiper, ini para model masih pada muda-muda semua. Dua model laki-laki kembar ternyata masih SMA, dan tiga model cewek yang ga kalah imut masih pada kuliah. Oh oke, aku yang paling tua di sini.

Sambil menunggu giliran untuk dipotret, aku sempat diperkenalkan dengan pihak dari Bl*ckb*rry, beberapa pengarah gaya dan si tukang photografer. Sebelum dipotret aku sempat ditanya oleh pihak Bl*ckb*rry “sudah pernah jadi model apa aja mas Ario?”

“Oh, sudah pernah mas, jadi model foto keluarga di rumah..” jawabku jayus. Dan mas-mas tersebut pun tidak sama sekali tersenyum, apalagi tertawa. Sebagai pelawak aku merasa gagal. x))

Hampir sejam aku menunggu, dan akhirnya tibalah giliranku……. #kemudianhening.

Sang pengarah gaya pun datang menghampiriku:

“Ario, kamu coba bayangkan kamu lagi baca BBM terus mendapat berita yang bahagia, kamu tertawa terbahak-bahak lalu kamu terpingkal-pingkal.”

“Ok!” jawabku singkat.

Sang photografer pun turun tangan, setiap hitungan ketiga kamu ganti gaya ya Ario! satu.. dua.. tigaa!! preeeet.. satu.. dua.. tigaa.. prettt.. satu.. dua.. tigaa.. prettt.. begitu seterusnya sampai aku mulai kehilangan arahπŸ˜€

Beberapa Hasil Foto

Beberapa Hasil Foto

“Oke, ganti gaya, sekarang kamu bayangkan kamu sedang membaca BBM dan mendapat berita yang sedih.”

Nah ini dia yg susah, aku ga bisa bergaya sedih, default wajahku selalu terlihat tersenyum!

Aku berusaha untuk terlihat cemberut dan sedih sebisa mungkin, namun sepertinya sang pengarah gaya masih belum puas karena belum mendapat hasil yang menurutnya bagus.

“Ayo Ario, sedih.. ekspresi sedih!!”

“Iyeeeee ini aku juga lagi sedihh.. seedih bangett karena ga bisa berwajah sedih..” kataku dalam hati

Akhirnya gaya ini-pun selesai, dan entah ada berapa gaya lagi yang diminta oleh sang pengarah gaya. Mulai dari gaya mlongo, gaya cuek bebek, gaya autis, gaya seperti habis menang lotre, aku manut apa yang disuruh oleh si mas-mas pengarah gaya. Entah jadinya seperti apa.

Setelah menghasilkan beberapa foto yang dianggap oleh si pengarah gaya sesuai dengan keinginannya, kami para model diminta untuk bersiap-siap berfoto bersama. Beberapa dari mereka ada yang berganti kostum, sedangkan aku masih tetap memakai kostum yang sama.

Foto bersama ini juga ga kalah kacaunya, kami diminta bergaya seakan-akan sedang mengantri di sebuah loket sambil bermain bl*ckb*rry. Foto bersama ini menghabiskan waktu yang lumayan lama, karena harus mengatur blocking dan harus benar-benar pas sesuai sama yang diinginkan sama si pengarah gaya. Jadi kalau aku yang gayanya udah bener, ada model lain yang kurang bagus. Kalau mereka udah bagus eh giliranku yang diomelin.

“Ario muka kamu jgn terlihat merengut begitu..” kata si pengarah gaya

hihihi, ternyata mukaku lagi merengut toh.

Akhirnya, pemotretan pun selesai pukul 23:10, cukup melelahkan memang, tapi ini menjadi pengalaman baru yang sangat berharga bagiku. Setidaknya sudah pernah menyicipi bagaimana rasanya menjadi model, hohoho

3 hari kemudian, aku mengecek saldo di rekening BRI ku dan ternyata bayaran sebagai model juga sangat lumayan euy.Β  hehe.. Ada tawaran lain?πŸ˜€