Solo Traveling: Nusa Lembongan, Nusa Ceningan dan Nusa Penida

BALI. Nggak pernah bosan rasanya, lagi dan lagi datang ke pulau yang sering disebut sebagai pulau seribu dewa itu. Akhir Oktober 2012 lalu, tepatnya tanggal 26 sampai 28, aku menikmati liburan panjangku di tiga pulau kecil yang berada di bagian tenggara Pulau Dewata; NUSA LEMBONGAN, NUSA CENINGAN DAN NUSA PENIDA.

Tiga Gugusan Kepulauan Nusa Lembongan, Nusa Penida dan Nusa Ceningan

Tiga Gugusan Kepulauan Nusa Lembongan, Nusa Penida dan Nusa Ceningan

Sebenarnya pada tanggal yang sama, aku sudah mempunyai rencana jalan-jalan ke Gugusan Kepulauan Derawan. Aku bahkan sudah membayar DP sebesar Rp. 700.000 ke salah satu tour agent. Selain itu, tiket pesawat pun sudah di-book. Tapi rencana tinggalah rencana. Karena tanggal 29 Oktober sampai 1 November 2012 aku harus mengikuti training public course di Kuta-Bali, akhirnya aku memutar otak. “Hei, kenapa aku nggak extend aja di awal biar bisa traveling di tempat-tempat wisata yang belum pernah kudatangi di Bali?” dalam hatiku. Dan semesta pun mendukung. Uang DP untuk Derawan Trip juga bisa kembali, jadi uang tersebut bisa kupakai untuk jalan-jalan ke Bali.

“Alhamdulillah, orang ganteng disayang Allah,” syukurku dalam hati.

Kalau sebelum-sebelumnya aku sering jalan-jalan bareng beberapa teman dan orang tua, nah traveling kali ini kulakukan sendirian. Iya, sendirian! Ini solo traveling pertamaku.

Sudah banyak orang yang bertanya, apa sih enaknya jalan-jalan sendirian? Jujur, aku sedikit heran dengan orang-orang yang bertanya begitu. Memang sih, traveling lebih seru kalau bareng travelmates. Tapi kan kita nggak selalu bisa mengatur jadwal biar bisa jalan-jalan bareng mereka. Jadi menurutku, mending aku jalan sendiri daripada jalan bareng orang yang suka “mengeluh” ini-itu selama perjalanan. Hehe, but it’s just my opinion lho!

Aku bersemangat sekali. Semua sudah kuatur sendiri sebelumnya, termasuk itinerary. Rincian perjalanan dari transportasi, tempat makan yang harus didatangi, tempat-tempat wisata yang bisa dikunjungi, sampai biaya yang dibutuhkan untuk tiap kegiatan, penginapan, transportasi, dll sudah kusiapkan. Aku ingin membuat perjalanan kali ini lebih berkesan!

Selalu ada Itinerary ditiap Traveling

Selalu ada Itinerary ditiap Traveling

Tanggal 26 Oktober aku berangkat. Penerbanganku ke Denpasar menggunakan Air Asia sore itu berjalan dengan lancar dan tepat waktu. Begitu turun dari pesawat, senyum sumringah langsung merekah dari bibirku. Iya, aku sangat excited sekali, sampai-sampai aku berteriak sendiri saat itu. “BALIIIII!! AKU DI BALIII..” Bodo’ amat deh dilihatin orang-orang, nggak ada yang kenal ini hihii..

Setelah keluar dari arrival gate, aku berjalan menuju pintu keluar Bandara Ngurah Rai dan mencari tukang ojek. Sesuai yang tertera di itinerary-ku, aku memperkirakan ongkos ojek dari Bandara Ngurah Rai menuju penginapan yang ada di Jalan Popies sekitar Rp 40.000. Semua perkiraan biaya yang ada di itinerary, kujadikan patokan maksimal. Aku bertekad, semua biaya ini-itu selama jalan-jalan kali ini, tidak boleh lebih dari yang tertera di situ.

“Kemana mas? Ayo saya antar,” kata seorang tukang ojek dengan logat Bali datang memberikan tawaran dengan ramah.

“Ke Popies, Mas. Dua puluh ribu ya, Mas?” tanyaku sambil menaikkan alis.

“Waduh, biasanya ke sana empat puluh ribu, Mas,” katanya memelas.

“Udahlah tiga puluh ribu aja, nggak usah ditambah-tambahin lagi!” jawabku sok cuek, padahal butuh.

Tanpa diduga, tukang ojek itu akhirnya setuju dengan harga yang aku ajukan. Horee.. hemat sepuluh ribu!

Selama perjalanan menuju Popies, tukang ojek itu bertanya apa aku sudah mendapat penginapan. Dan karena aku belum booking penginapan sama sekali, akhirnya dia menawarkan diri mengantarku ke sebuah penginapan murah di daerah Popies. Yes! Makin giranglah aku saat itu, nggak usah repot-repot cari penginapan sendiri.

Begitu sampai di hotel yang dimaksud oleh si tukang ojek itu, ternyata semua kamar sudah penuh. Sigh. Ketidakberuntungan pertama. Tapi wajar sih, waktu itu memang sedang long-weekend. Ya sudahlah, aku akhirnya memutuskan untuk mencari hotel sendiri sambil jalan-jalan. Aku pun membayar ongkos ojek, dan sebelum pergi, si tukang ojek memberikan nomer telponnya supaya bisa kuhubungi kalau esok harinya aku mau jalan-jalan.

Perjuangan mencari hotel murah pun dimulai. Aku berjalan menyusuri sepanjang jalanan Popies, keluar masuk dari satu pintu hotel ke pintu hotel lain demi mendapat kamar hotel dengan harga yang sesuai budget. Sayang juga kalau harus menginap di hotel mahal, toh cuma untuk menumpang mandi dan tidur semalam sebelum esoknya pagi-pagi sekali sudah harus check out demi mengejar jadwal kapal yang menyeberang ke Pulau Nusa Lembongan. Tarif rata-rata hotel di daerah Popies sebesar Rp. 150.000/malam. Walau sudah kucoba untuk menawar harga, belum juga aku berhasil.

Akhirnya, setelah hotel demi hotel kudatangi, ada sebuah hotel bernama Taman Sari Cottage yang mematok tarif sebesar Rp. 190.000 per malam. Kamarnya lumayan, dengan fasilitas AC, private bathroom, dan kolam renang.

“Sembilan puluh ribu aja ya, Pak? Sebelum jam 7 pagi, saya sudah check out kok. Jadi nggak perlu sarapan,” saya berusaha menawar.

Ternyata kali ini laki-laki yang ada di balik meja resepsionis itu menyetujui harga yang kutawar. Wow! Aku agak sedikit kaget, ternyata aku berhasil mendapat kamar berharga murah dengan fasilitas lumayan. Unbelievable!

Aku kemudian diantar ke kamar yang berada di lantai dua. Dan ternyata dari kamar itu, aku bisa melihat kolam renang yang ada di bawah. Ah, indahnya..

Karena gerah, segera aku mengambil peralatan mandiku. Kulepas celana dan bajuku, sebelum sesaat kemudian telepon kamar berdering.

“Mas, maaf tadi nawar harga berapa ya?” tanya suara dari seberang setelah telepon kuangkat.

“Kan tadi saya bilang sembilan puluh ribu, Pak,” jawabku.

“Oh, sembilan puluh ribu ya, Mas? Saya salah dengar, saya kira tadi seratus lima puluh ribu,” kata si Bapak resepsionis.

“Buset, jauh amat sembilan puluh ribu sama seratus lima puluh ribu,” kataku dalam hati.

Aku tetap ngotot menawar harga kamar dengan kesepakatan awal, tapi si Bapak keberatan. Ya sudah, karena malas berdebat, akhirnya aku membatalkan menyewa kamar itu. Dengan sedikit dongkol dan manyun, kupakai lagi celana dan bajuku dan segera keluar dari hotel tersebut. Phew! Ketidakberuntungan kedua.

Kulanjutkan pencarianku lagi dari satu pintu hotel ke pintu hotel. Karena sudah jalan lumayan jauh, aku haus dan sedikit lelah. Kulihat ada Alfamart di dekat tempatku berdiri, jadi aku mampir sebentar untuk membeli minum.

Tak lama kemudian ada seorang laki-laki menghampiriku, memberi tahu kalau ada hotel murah. Mungkin dia kasihan melihatku jalan sendirian sambil memanggul ransel segede gaban mencari kamar hotel ke sana kemari. Dia pun mengantarku ke hotel yang dia maksud.

Sesampainya di depan hotel, dia menyapa seorang resepsionis dan memberitahu kalau aku mau menginap. Kali ini aku beruntung, di Hotel Cempaka 2 ini, aku mendapat kamar tanpa AC seharga Rp. 80.000/malam.

Cempaka 2 Hotel, murah meriah

Cempaka 2 Hotel, murah meriah

Lega rasanya, akhirnya aku bisa benar-benar melepas baju dan mandi! Kamar hotelnya lumayan, dilengkapi dengan private bathroom. Dan walau tanpa AC, ada sebuah fan yang menempel di dinding kamar.

Tengah malam, aku memutuskan pergi keluar. Aku jalan-jalan di sekitar jalanan Legian, menikmati keramaian sambil duduk-duduk di trotoar. Malam semakin larut, tapi keramaian Legian tak pernah surut. Lucu juga mengamati tingkah laku orang-orang asing dengan segala bentuk keanehannya. Wilayah ini seperti sengaja dibuat untuk mereka yang ingin menikmati dunia malam hingga terlena sampai pagi.

Legian lewat tengah malam

Legian lewat tengah malam

Setelah bosan, aku pun beranjak pergi. Sekitar jam dua pagi, aku berjalan menuju Pantai Kuta. Aku duduk di tepi pantai memandang lautan luas dan langit malam yang bertabur bintang. Ah, indahnya. Deburan ombak dan angin pantai membuatku merasa tenang dan damai. Dan aku begitu menikmati kesendirianku saat itu. Mungkin ini yang disebut solitary moment.

Lewat jam tiga pagi, aku kembali ke hotel dan tidur. Sekitar jam enam, aku sudah bangun dan bergegas menghubungi tukang ojek yang memberiku nomer teleponnya sehari sebelumnya. Aku minta diantar ke Sanur karena aku harus menyeberang ke Nusa Lembongan menggunakan kapal yang berada di sana. Ongkos ojek dari Popies ke Sanur kutawar sampai Rp. 35.000 dan si tukang ojek menyetujuinya.

Aku tiba di Sanur jam delapan pagi. Segera kubeli tiket kapal cepat seharga Rp. 50.000. Karena berniat sarapan sup ikan yang konon terkenal enaknya di Warung Mak Beng, aku bergegas mencari warung tersebut. Ini bukan kali pertamaku ke Bali, tapi aku sama sekali belum pernah merasakan kuliner satu itu. Tapi ternyata Warung Mak Beng belum buka.

Walau belum buka harus tetap gaya di depan Warung Mak Beng

Walau belum buka, harus tetap gaya di depan Warung Mak Beng

“Mbak, warungnya buka jam berapa?” tanyaku pada seorang perempuan yang bekerja di warung itu.

“Oh, jam setengah sembilan, Mas,” jawabnya.

“Nggak bisa dibuka sekarang aja kah, Mbak? Kapalku berangkat jam setengah sembilan nih,” pintaku.

“Ikannya belum dimasak, Mas. Nanti aja datang ke sini lagi,” katanya.

Yaaah.. Gagal sudah keinginan sarapan sup ikan Mak Beng pagi itu. Akhirnya aku membeli nasi bungkus seharga Rp. 10.000 di sekitar Pantai Sanur.

Nasi Bungkus Pantai Sanur

Nasi Bungkus Pantai Sanur

Perut kenyang, aku pun siap menyeberang ke Nusa Lembongan. Sambil menunggu kapal yang belum juga berangkat, aku menyapa penumpang lain dan mengajaknya ngobrol. Kebetulan saat itu ada seorang laki-laki bernama Bli Made, sedang menunggu kapal yang menyeberang ke Nusa Penida.

Beberapa menit ngobrol, kapalku pun siap berangkat. Sebelum aku pamit, Bli Made memberiku nomer teleponnya. Dia bersedia mengantarku jalan-jalan kalau aku mau berkunjung ke Nusa Penida. Wah, senangnya!

Pantai Sanur dipagi hari

Pantai Sanur dipagi hari

Kapal penyebrangan ke Nusa Lembongan dan Nusa Penida

Kapal penyebrangan ke Nusa Lembongan dan Nusa Penida dari Sanur

NUSA LEMBONGAN
Perjalanan menyeberang dari Sanur menuju Nusa Lembongan ditempuh kapal cepat hanya dalam waktu 30 menit. Sesampainya di pulau kecil itu, pantai dengan laut warna kebiruan dan airnya yang sangat jernih menyambutku. Subhanallah, aku benar-benar terpukau. Suasana khas Bali pun terasa lebih kental di sana.

Degradasi biru muda-biru tua Pantai Nusa Lembongan menyegarkan mata

Degradasi biru muda-biru tua Pantai Nusa Lembongan menyegarkan mata

Begitu turun dari kapal, banyak orang di dermaga menawariku hotel dan sewa motor. Kebetulan nih! Aku sudah malas jalan kaki dan keluar masuk hotel, jadi aku mencoba menawar harga sewa motor dan meminta salah seorang laki-laki mencarikanku kamar hotel.

Harga sewa motor yang ditawarkan sebesar Rp. 100.000/hari, kutawar setengah mati agar lelaki itu memberiku setengah harga, tapi dia menolak. Aku menyerah, kusetujui harga yang ditawarkannya tapi dengan syarat. Yang pertama, waktu sewa tidak terbatas sampe keesokan harinya, dan yang kedua, aku memintanya mencarikanku kamar hotel.

Setelah dia setuju, aku mengikutinya menggunakan motor. Selama perjalanan menuju hotel, banyak pemandangan indah yang nggak mau kulewatkan. Aku meminta si Bapak berhenti dan memotretku hihi..

Bukit Jungut Batu Nusa Lembongan

Bukit Jungut Batu Nusa Lembongan

Hotel yang dimaksud oleh laki-laki tadi terletak di daerah Jungut Batu, sebelah utara Nusa Lembongan. Sekitar 15 menit dari dermaga. Dan ternyata, dia mengantarkanku pada sebuah homestay bernama Wahyu Homestay. Harga kamar AC dipatok Rp. 200.000, sedangkan yang tanpa AC seharga Rp. 150.000. Wah, ternyata lebih murah dari perkiraanku! Aku pun meminta kamar tanpa AC. Kamarnya bagus, sama seperti kamar hotelku sebelumnya di Popies.

Mumpung cuaca cerah, aku langsung ganti baju santai dan bergegas jalan-jalan keliling Nusa Lembongan dengan motor sewaan.

NUSA CENINGAN
Berbekal informasi yang kudapat dari resepsionis homestay, tempat pertama yang kukunjungi adalah Nusa Ceningan. Pulau ini cukup dekat dari Nusa Lembongan. Dari homestay tempatku menginap, cuma butuh sekitar 10 menit dengan naik motor. Sudah ada jembatan penghubung dua pulau kecil ini dan dapat dilalui motor. Jembatan ini kuanggap menjadi semacam icon yang wajib difoto.

Jembatan Ceningan pehubung antar Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan

Jembatan Ceningan penghubung antara Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan

Nusa Ceningan yang 95% penduduknya merupakan petani rumput laut

Nusa Ceningan yang 95% penduduknya merupakan petani rumput laut

Nusa ceningan sendiri adalah pulau yang menurutku cukup gersang, sepi, dan yang pasti panas. Di pulau ini terdapat beberapa perkampungan, hutan, dan pantai yang masih jarang dikunjungi wisatawan.

DREAM BEACH
Setelah puas melihat sudut-sudut Nusa Ceningan, aku kembali lagi ke Nusa Lembongan dan mengunjungi sebuah private beach milik salah satu resort yang ada di Nusa Lembongan. Pantai indah dengan airnya yang jernih ini bernama Dream Beach.

Bersih.. tenang.. damai.. itulah Dream Beach

Dream Beach: Bersih, tenang, damai.

Sebenarnya akses masuk pantai ini nggak bebas begitu saja, harus membayar atau paling nggak, membeli makanan/minuman yang disediakan oleh resort pemilik pantai itu. Tapi aku sok cuek dan pura-pura nggak tahu, nyelonong masuk, dan main ayunan yang ada di tepian pantai. Nggak ketahuan pula hahaha.. Mission accomplished!

main ayunan di dream beach (btw itu self potrait, hehe)

Main Ayunan di Dream Beach (btw itu self portrait hehe)

Beberapa saat kemudian, aku menghubungi seorang laki-laki yang motornya kusewa. Aku bertanya apa ada kapal yang bisa kusewa dan mengantarku ke snorkeling di beberapa spot yang ada di Nusa Lembongan.

Setelah berhasil mendapat sebuah kapal untuk disewa, aku bergegas menuju tempat penyewaan kapal yang sudah diinfokan sebelumnya lewat pesan singkat oleh si Bapak pemilik motor sewaan. Di sana, sudah ada seorang Bapak pemilik kapal yang siap mengantarku menuju beberapa spot di tengah laut untuk melakukan olahraga air favorit-ku; snorkeling.

beberapa kapal jukung yang bersandar di dermaga. Siap snorkeling bersama si jukung!!!

Siap snorkeling bersama si jukung!

Setelah proses tawar menawar, akhirnya aku mendapat kesepakatan harga sewa jukung lengkap dengan peralatan snorkeling sebesar Rp. 250.000. Berangkaaaat!

MANGROVE BAY

Mangrove Bay ini adalah spot snorkeling pertama yang kudatangi. Underwater view-nya sangat indah. Banyak terdapat karang yang bagus dengan berbagai bentuk dan ikan-ikan kecil berwarna-warni yang berenang di antara karang itu. Tapi, aku juga sedikit ngeri karena bentuk alam bawah lautnya yang mirip seperti jurang yang dalam di tepian karang-karang indah tadi.

Mangrove Bay dengan jurang dalamnya

Mangrove Bay dengan jurang dalamnya

GAMAD BAY

Setelah disuguhi alam bawah laut Mangrove Bay yang ada di Nusa Lembongan, pemberhentian kapal jukung sewaanku berikutnya adalah Gamad Bay yang ada di wilayah perairan Nusa Penida. Nah, di sini airnya lebih dingin dibanding bay yang pertama. Padahal jarak antara Mangrove Bay dan Gamad Bay ini cuma sekitar sepuluh menit menggunakan jukung.

Tapi walaupun dingin, aku menjumpai banyak sekali ikan sewaktu snorkeling di bay ini. Saking banyaknya, ikan-ikan itu seperti menemaniku berenang. Bentuk dan warnanya bermacam-macam, dari yang berukuran kecil, sedang, besar, berwarna hijau, oranye, merah, hitam, kuning, dll. Sayangnya, karang di bay ini nggak sebanyak yang ada di Mangrove Bay.

Puas berenang dengan ikan-ikan lucu berwarna-warni selama sekitar setengah jam, aku mulai merasa kedinginan. Aku pun meminta diantar ke spot selanjutnya.

Gamad Bay dengan ribuan ikannya

Gamad Bay dengan ribuan ikannya

CRYSTAL BAY

Jarak bay ketiga ini lagi-lagi cuma sekitar sepuluh menit dari bay sebelumnya. Di Crystal Bay ini, airnya semakin dingin. Ikan dan karangnya juga nggak sebanyak yang ada di dua bay sebelumnya. Aku cuma bertahan selama beberapa menit ber-snorkeling ria di sini karena nggak kuat dengan suhu airnya yang semakin dingin.

Crystal Bay dengan terumbu karangnya

Crystal Bay dengan terumbu karangnya

MANTA BAY

Nah, ini dia spot snorkeling terakhirku; Manta Bay. Konon di Manta Bay ini banyak terdapat manta (ikan pari) yang berkeliaran di dalamnya. Awalnya aku excited dan penasaran, tapi setelah beberapa saat snorkeling, aku nggak berhasil menemukan satupun.

Manta Bay ini adalah bay yang dasarnya paling dalam dibanding ketiga bay yang kudatangi sebelumnya. Pantas saja karang dan ikan di dalamnya lebih sedikit yang terlihat dari permukaan. Sepertinya spot yang satu ini lebih cocok untuk spot diving daripada snorkeling. Dan benar saja, kata si Bapak yang sedang asyik mengemudikan jukungnya, manta-manta baru bisa dijumpai di bagian yang lebih dalam. Sayangnya, aku nggak mempersiapkan peralatan diving waktu itu.

………………………………………

Karena perut sudah gaduh menabuh genderang, aku buru-buru mencari tempat makan setelah kembali dari kegiatan snorkeling-ku. Nggak nyangka sebelumnya kalau ternyata susah sekali mencari rumah makan yang halal di Nusa Lembongan. Hampir semua warung, restoran, atau tempat-tempat makan cuma menyajikan menu semacam babi dan anjing. Hii..

Sampai akhirnya ada sebuah rumah makan yang pilihan menunya agak ‘wajar’ dan nggak aneh-aneh. Aku sempat bertanya sih pada salah seorang pelayannya, apakah menu yang mereka sediakan itu halal. Eh dia menjawabnya dengan sedikit ragu. Tapi ya sudahlah, aku sudah sangat kelaparan, jadi kupesan saja nasi goreng seafood.

Sorenya, aku menikmati semilir angin dan sunset yang kemerahan di tepi pantai yang dekat dengan homestayku tinggal. Aku menunggu matahari sampai benar-benar menghilang, bak ditelan lautan di ufuk barat. Di saat-saat seperti inilah aku merasakan solitary moment-ku. Begitu menenangkan.

Suasana malam hari di Nusa Lembongan begitu sepi. Para wisatawan yang berkungjung kebanyakan adalah turis mancanegara. Mereka menghabiskan malam harinya di club-club malam, berpesta sampai pagi. Karena aku malas ke tempat seperti itu, akhirnya aku memutuskan istirahat di kamar homestay saja.

Wahyu Homestay, tenang dan nyaman

Wahyu Homestay, tenang dan nyaman

Esoknya, aku sempat berenang sebentar di kolam renang homestay tempatku menginap sebelum aku menghubungi Bli Made yang sehari sebelumnya bertemu di Sanur.

Sempet berenang dulu sebelum ke Nusa Penida (ga mau rugi, hehe)

Sempet berenang dulu sebelum ke Nusa Penida (ga mau rugi, hehe)

Aku pun bergegas check-out dan melaju dengan motor sewaan menuju jembatan Nusa Ceningan. Dari jembatan ini, aku menyewa kapal yang akan mengantarkanku menuju Pulau tujuan selanjutnya; Nusa Penida.

Ternyata harga sewa kapal dari jembatan Nusa Ceningan menuju Nusa Penida, yang memakan waktu selama 15 menit ini, menggunakan sistem carter. Sebuah kapal bisa mengangkut hingga 6 orang dengan harga sewa per kapalnya sebesar Rp. 100.000. Berhubung aku sedang traveling seorang diri, jadi nggak bisa patungan deh hiks..

NUSA PENIDA
Begitu aku sampai di Dermaga Nusa Penida, Bli Made sudah menungguku. Dia lalu mengajakku ke sebuah pantai. Kami berdua menikmati angin pantai sambil ngobrol santai di sebuah gubuk yang ada di pinggir pantai.

Duduk di gubug sambil menikmati aroma pantai di Nusa Penida

Duduk di sebuah gubuk sambil menikmati aroma pantai di Nusa Penida

Bli Made banyak bercerita tentang keluarganya, dari mulai cerita gimana dia bisa sampai menikah muda, anaknya, sampai mertuanya. Puas ngobrol, Bli Made lalu mengajakku jalan-jalan keliling Nusa Penida. Dari sepanjang mata memandang, di sana lebih ramai dibanding dengan Nusa Lembongan. Wisatawan lokal jauh lebih banyak daripada wisatawan asing.

Salah satu Pantai Nusa Penida

Salah satu Pantai Nusa Penida

Kebetulan di pasar kami berdua bertemu adik perempuan Bli Made yang sedang berbelanja ikan. Jadilah kemudian aku diajak mampir ke rumahnya.

Bli Made and his brother

Bli Made and his brother

Sesampai di rumah adik perempuan Bli Made ini, aku sedikit dibuat ketakutan oleh seekor anak anjing peliharaannya. Maklum, dulu sewaktu kecil punya pengalaman dikejar-kejar anjing, jadinya trauma hihi.. Makanya buru-buru kuminta Bli Made mengikat atau mengurungnya di kandang.

Rumah adik perempuan Bli Made di Nusa Penida

Rumah adik perempuan Bli Made di Nusa Penida

Setelah ikan yang dibeli oleh adik perempuan Bli Made itu dimasak, aku pun ditawarinya makan. Betapa sederhana menu makan siangku waktu itu, hanya sepriuk nasi dan dua ekor ikan tongkol yg ditumis dengan bawang dan cabe. Kami makan bersama. Dari kebersamaan itulah aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Dan kesederhanaan ini nggak akan terbeli dengan materi. Aku merasa menjadi bagian dari keluarga mereka.

Bli Made lalu mengajakku berkunjung ke rumah mertuanya yang ada di daerah perbukitan, sekitar 15 menit dari rumah adik perempuannya.

Rumah Bapak Mertua Bli Made

Rumah Bapak Mertua Bli Made

Lagi-lagi aku disuguhi kesederhanaan yang hangat dari sebuah keluarga. Ayah mertua Bli Made ini seorang pemulung yang mengumpulkan berbagai jenis dan bentuk barang di rumahnya. Selain itu, beliau juga beternak ayam, babi, sapi, kambing, dan tentu saja anjing.

Bli Made, Bapak mertua dan Wayan di kebun si Bapak

Bli Made, Bapak mertua dan Wayan di kebun si Bapak

Bukan itu saja, beliau juga memiliki sebuah kebun yang cukup luas. Saat aku diajak jalan-jalan ke kebunnya, tiba-tiba saja lelaki paruh baya itu mengambil sebuah tangga dan memanjat pohon kelapa, memetik tiga buah kelapa muda.

Si bapak mertuanya Bli Made memanjat pohon untuk mengambil kelapa muda, slurp!

Si bapak mertuanya Bli Made memanjat pohon untuk mengambil kelapa muda, slurp!

Aku sangat takjub akan kebaikan hati orang-orang yang baru saja kukenal itu. Dengan kesederhanaan yang mereka miliki, mereka begitu menghargai tamu yang berkunjung. Aku cuma seorang yang asing, yang kebetulan bertemu mereka, tapi mereka sangat tulus menjamuku. Betapa aku berterima kasih untuk pengalaman berharga yang kudapat dalam perjalananku kali ini, aku seperti mendapat teman dan keluarga baru.

Apa boleh buat, keakraban itu harus terhenti karena aku sudah harus kembali ke Sanur. Aku pun pamit dan beranjak menuju Dermaga Nusa Penida. Dengan tiket kapal seharga Rp. 60.000, aku siap kembali ke Sanur dengan sebuah kapal cepat.

Loket Nusa Penida

Loket Nusa Penida

Perjalanan dari Nusa Penida ke Sanur yang memakan waktu selama 35 menit ternyata membuatku kembali lapar. Akhirnya aku berjalan menuju Warung Mak Beng setibanya di Pantai Sanur.

Warung itu sudah ramai pengunjung sewaktu aku datang. Segera saja kupesan seporsi lengkap sup ikan yang katanya enak itu.

“Oh, cuma ikan gini doang?” kataku dalam hati waktu sup ikan terhidang di depanku.

Begitu baru masuk gigitan pertama, wow! Ternyata rasanya sedaaaap! Daging ikannya sangat lembut dengan kuah yang segar ditambah ikan goreng yang gurih dan sambalnya yang luar biasa pedas. Pantas saja orang-orang merekomendasikannya, ternyata sup ikan yang dipatok seharga Rp. 27.000/porsi itu sangat lezat. Aku begitu menikmati tiap gigitan hingga habis.

Mak Beng yang luar biasa huwenake puol!

Sup Ikan Mak Beng yang luar biasa huwenake puol!

Dan karena masih belum puas dengan kelezatan sup ikan Mak Beng, aku meminta satu porsi lagi untuk dibungkus dan kubawa ke hotel tempatku akan melakukan training. Kuliner yang sempurna untuk mengakhiri liburanku kali ini. Aku sangat puas dan bahagia. Alhamdulillah. Terima kasih, Allah.