My Own Le Grand Voyage

Nggak pernah terbayang sebelumnya kalau Allah SWT akan mengundangku ke Tanah Suci secepat ini. Bahkan dua bulan sebelum keberangkatanku ke Tanah Suci, aku belum mempunyai rencana ke sana.

Setelah sebelumnya sempat gagal dengan rencanaku bersama lima orang teman ke Korea Selatan hanya gara-gara cutiku yang nggak di-approve oleh atasan, ternyata ada takdir yang jauh lebih indah yang disiapkan oleh-Nya. Perjalanan yang tidak pernah kuduga sebelumnya, perjalanan hati ke Tanah Suci.

Saat itu awal bulan Februari 2014, dan aku masih di Malinau, iseng-iseng kubaca sebuah blog teman yang menceritakan perjalanan umrahnya. Sesaat, kubayangkan diriku sendiri yang melakukan perjalanan itu. Aku pun mencoba mencari tahu bagaimana cara untuk melakukan umrah, berapa biaya yang diperlukan, apa saja yang perlu disiapkan dan sebagainya.

Hari demi hari, entah kenapa pikiranku tertuju hanya kepada bayangan sebuah bangunan berbentuk kubus yang ditutupi kain hitam itu. Setengah melamun, batinku berdoa, “Ya Allah, undanglah aku ke Ka’bah-Mu.”

“Ma, Rio pengen umrah,” itu yang kuucapkan saat mama menelepon.

“Sudah siap hati dan materi?” kata Mama.

“InshaAllah. Kalau Allah mengizinkan, Rio siap,” jawabku.

Mama dan Ayah ikut membantu mencarikan travel agent umrah termurah yang ada di kota Malang. Setelah menemukan beberapa pilihan dengan variasi harga, akhirnya pilihan jatuh pada travel agent umrah tour bernama “Saudaraku” yang menawarkan perjalanan umrah dengan biaya 1.999 $ atau sekitar 24.000.000 IDR (kurs: Rp. 12.000/USD).

Jujur aja, padahal saat itu uangku belum cukup, tapi entah kenapa aku berani membayar DP sekitar 10.000.000 IDR kepada pihak travel.

“Kalau nggak gini, nggak akan berangkat!” pikirku sambil meyakinkan diri sendiri.

Sampai pada akhirnya hari dimana aku harus melunasi kekurangannya, Allah pun seperti membukakan jalan dengan memberikan rizki melalui jalur yang nggak diduga. Setelah melunasi sisanya, aku fixed terdaftar!

Alhamdulillah.

Sisa waktu sekitar tiga minggu kugunakan untuk mempersiapkan semuanya, mulai dari baju, obat-obatan, dan segala perlengkapan lain yang dibutuhkan selama umrah nantinya. Mama dan Ayah justru yang lebih sibuk mengurus segala kelengkapan umrahku. Maklum aja, karena aku sendiri sedang jauh dari Malang, jadinya agak kewalahan kalau harus mengurusnya sendiri. Oke, ini alasan aja sebenarnya hehe..

Salah satu hal penting yang sebenarnya harus kulakukan sebelum berangkat umrah adalah mengikuti kegiatan manasik dengan rombongan. Padahal penjelasan tentang semua yang akan dilakukan selama umrah nanti, bisa kudapatkan dari manasik itu. Tapi karena satu dan lain hal, aku akhirnya harus melewatkannya. Tapi tak kalah semangatnya, aku mempelajari sendiri tata cara umrah, rukun-rukun umrah, sampai cara memakai ihram sendiri. Aku juga mulai rutin olahraga jalan kaki tiap hari untuk persiapan fisik.

Di luar segala persiapan itu, ada perang batin di dalam diriku. Ada ketakutan-ketakutan atas apa yang akan kualami nanti selama umrah. Maklumlah, aku merasa banyak dosa dan bukan seorang muslim yang taat. Aku takut dengan pembalasan yang akan kuterima secara langsung di Tanah Suci nanti. Aku takut ibadahku nanti tidak sempurna karena pikiran dan hati kotorku. Ah, aku galau. Tapi aku terus berusaha melawan pikiran dan ketakutanku sendiri.

Menjelang hari keberangkatan, akhirnya perasaan galau dan ketakutan-ketakutanku hilang perlahan. Semua berganti kemantapan hati dan niat untuk beribadah. Bismillah!

——————————————————————————–

Hari yang kutunggu akhirnya tiba. Aku berangkat dari Balikpapan menuju Surabaya untuk persiapan keberangkatanku dengan rombongan yang menggunakan jasa travel agent umrah yang sama. Betapa sangat senang sekaligus deg-degan aku saat itu.

Keesokan paginya, aku diantar keluargaku ke Bandara Juanda Surabaya. Di sana, aku bertemu teman se-rombongan. Salah satunya adalah Mas Yudwi yang kebetulan berangkat dengan Mamanya. Aku sempat iri melihat Mas Yudwi yang bisa pergi umrah dengan Mamanya.

“Ah, andai aku juga membawa Mama dan Ayah bersamaku, pasti akan lebih menyenangkan,” batinku.

Di antara peserta umrah yang lain, hanya aku yang pergi seorang diri. Sekali lagi, hal ini sempat membuatku sedikit sedih.

Dari Surabaya, aku dan rombongan harus transit via Jakarta lebih dulu, dan kemudian dilanjutkan menuju Kuala Lumpur. Di sinilah ketakutanku kembali muncul. Maklum aja, waktu itu pesawat yang kunaiki adalah Malaysia Airlines; maskapai yang sedang dihebohkan dengan berita kehilangan salah satu pesawatnya yang sampai saat itu belum jelas keberadaannya.

Ketakutanku makin menjadi saat pesawat mendadak mengalami turbulensi yang lumayan menakutkan selama proses landing. Kami harus melewati awan hitam yang membuat sekeliling menjadi gelap dan pesawat terguncang. Semua penumpang sontak berteriak mengucap “Allahu Akbar!” seraya ketakutan.

Aku yang juga sangat ketakutan, seperti nggak punya tenaga untuk ikut teriak. Aku lemas dan hanya bisa terus komat-kamit mengucap doa.

“Ya Allah, lindungilah kami. Izinkan kami selamat sampai di Rumah-Mu,” doaku sambil memegang erat kursiku.

Bayangan pesawat MH 7 yang hilang itu kembali memenuhi pikiranku. Duh Gusti, ngeri kali cobaan-Mu! Tapi, Alhamdulillah sang pilot berhasil mendaratkan kami semua dengan selamat di Kuala Lumpur.

Kami hanya transit dan berganti pesawat yang lebih besar menuju Jeddah. Perjalanan yang dibutuhkan dari Kuala Lumpur menuju Jeddah adalah selama sembilan jam.

Ketika sebagian penumpang tertidur selama perjalanan, mataku nggak juga mau terpejam. Aku terus saja memandang layar TV di depanku yang menunjukkan posisi pesawat sedang berada. Apalagi ketika posisi pesawat sedang berada di atas India. Aku senyum-senyum sendiri sambil nonton film Dilwale Dulhania Le Jayenge.

——————————————————————————–

Saat itu sudah malam ketika pesawat yang kunaiki mendarat di Jeddah. Di sinilah perjalanan yang sebenarnya dimulai. Dari Jeddah, kami masih harus melanjutkan perjalanan menuju Madinah menggunakan bus, selama sekitar empat jam. I was really excited.

Nggak ada perasaan lain selain rasa haru yang luar biasa ketika pertama kali menginjakkan kaki di atas salah satu Tanah Haram yang dijanjikan Allah sebagai kota yang aman dari fitnah Dajjal; Madinah. Madinah sendiri artinya adalah kota tempat orang-orang yang beradab.

Aku dan rombongan sampai di Hotel Royal Eiman Madinah sekitar jam 3.30 dini hari waktu setempat. Setelah pembagian kamar, kami semua mandi dan langsung bersiap sholat subuh di Masjid Nabawi. Betapa aku nggak bisa menahan rasa haru yang bercampur senang sekaligus bangga akhirnya bisa menginjakan kaki di masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah SAW.
image

# Masjid Nabawi
Masjid Nabawi luas sekali. Banyak sekali pintu masuk dengan berbagai namanya masing-masing yang susah sekali untik dihapalkan. Pernah sekali waktu sepulang sholat zuhur, ingin pulang ke hotel namun salah pintu keluar. Jadi harus keliling jauh untuk mencari pintu keluar yang sebenarnya. Namun melihat arsitektur masjid yang luar biasa indah yang dihiasi payung-payung besar yang megah, nggak membuatku merasa capek berjalan.
image

Keutamaan sholat di Masjid Nabawi adalah pahalanya lebih besar 1000 kali sholat di masjid lain. Bisa dibayangkan kan betapa aku sangat bersyukur dpt sholat di mesjid ini? Rasanya mulut dan hatiku terus saja mengucap Alhamdulillah atas kesempatan yang lebih dari apa yang kuminta ini. Allah Maha Baik.
image

# Makam Rasulullah SAW
Di dalam Masjid Nabawi, terdapat Makam Rasulullah dan kedua sahabat beliau; Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Ketiga makam tersebut ditutupi dengan pagar emas dan tulisan Arab berwarna hijau sehingga tampak megah. Banyak yang menangis di depan makam tersebut, nggak terkecuali aku. Bersyukur sekali mendapat kesempatan bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri Makam Rasul, bisa sedekat ini dengan beliau. Kita disunnahkan agar memberikan salam kepada Rasul dan kedua sahabatnya pada saat ke makam tersebut.

# Raudhah
Selain terdapat Makam Rasulullah dan kedua sahabatnya, ada sebuah tempat yang diyakini mustajabah untuk berdoa di dalam Masjid Nabawi. Tempat ini bernama Raudhah, yang terletak di antara Rumah Rasulullah SAW (yang sekarang menjadi makamnya) dan Mimbar Rasul. Perbedaan Raudhah dengan bagian lain dari Masjid Nabawi ditandai dengan warna sajadahnya. Di sana sajadahnya berwarna hijau. Di sekelilingnya juga diberi pembatas. Selain itu, banyak askar (polisi Arab) yang menjaga di sekeliling Raudhah. Butuh kesabaran, ketelatenan dan keberuntungan untuk bisa memasuki Raudhah karena banyaknya orang yang berebut ingin juga berdoa di sana. Semua saling berdesakan supaya bisa masuk.
image

Alhamdullilah, aku salah satu jamaah umrah yang beruntung. Setiap hari selama tiga hari berturut-turut, aku berhasil masuk wilayah mustajab itu untuk berdoa. Bahkan pernah di satu hari, aku berdiam diri di Raudhah lama sekali, dari mulai waktu Sholat Ashar sampai waktu Sholat Isya’. Merasa bersyukur diberikan waktu selama itu, pastinya kumanfaatkan betul untuk melakukan sholat dan berdoa. Semua yang ingin kuminta pada Allah, kumohonkan saat itu juga. Apapun doa yang kupanjatkan, jodoh, karir, rezeki, dll aku hanya mengharap yang terbaik menurut Allah. Pun titipan doa dari keluarga dan teman-teman, semua kubacakan. InshaAllah segera diijabah ya. Aamiin.

# Masjid Quba
Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah. Letaknya sekitar 5 Km dari Masjid Nabawi. Menurut sabda Rasulullah, barang siapa sholat dua rakaat di Masjid Quba, maka pahalanya sama seperti pahala menjalankan ibadah umrah. Subhanallah.
image

# Jabal Uhud
Jabal Uhud ini sebenarnya berupa gunung atau perbukitan tandus yang dulunya adalah tempat terjadinya Perang Uhud; salah satu perang terbesar yang dilakukan oleh kaum muslimin. Gunung Uhud ini menjadi saksi bagaimana para syuhada wafat di kondisi yang mengenaskan. Paman Nabi Muhammad SAW pun turut syahid dalam pertempuran tersebut.

Setelah tiga hari berada di Madinah, perjalanan umrah selanjutnya adalah menuju Mekkah. Ada perasaan berat hati harus meninggalkan Madinah. Kota itu begitu nyaman dan damai. Pada saat sholat ashar terakhirku di Masjid Nabawi, aku terus saja berdoa dan berharap agar bisa kembali lagi berkunjung ke Madinah, agar bisa beribadah lagi di Masjid Nabawi, agar bisa berkunjung ke Makam Rasulullah dan menyapa Beliau dengan shalawat Nabi, dan juga agar bisa merasakan antusiasme berebut tempat mustajab untuk berdoa dan memohon ampun di Raudhah lagi. Aku kagum pada Madinah, tapi aku harus menuju kota lain yang merupakan inti dari rangkaian ibadah umrahku; Mekkah.

Perjalanan ke Mekkah, kami mulai setelah sholat ashar. Aku dan rombongan membutuhkan waktu sekitar empat jam untuk sampai ke Rumah Allah itu menggunakan bus. Sebelum berangkat, kami semua sudah bersiap memakai ihram. Ihram adalah kain putih tanpa jahitan yang wajib dipakai selama umrah. Kain ini tentu saja digunakan untuk menutup aurat, sebagai pengganti baju.

Saat memakai ihram, sebenarnya aku merasa diingatkan tentang kematian. Karena semua muslim, nantinya hanya akan dibalut selembar kain ketika mati. Atribut duniawi harus ditinggalkan ketika melakukan umrah, begitu pula ketika ajal nanti menjemput. Seketika aku merinding saat memakainya. Untuk laki-laki, ihram hanyalah dua lembar kain yang tidak dijahit yang dipakai untuk menutup aurat bagian bawah, sedangkan bagian atasnya hanya diselendangkan. Bismillah.

Sebelum ke Mekkah, bus rombonganku berhenti di sebuah Masjid bernama Bir Ali. Karena kami semua harus mengambil miqat sebagai salah satu rukun umrah. Miqat adalah niat untuk melakukan umrah. Selain itu, aku dan rombongan juga melakukan sholat sunnah di Bir Ali.

Semenjak itu pulalah kami dilarang melakukan perbuatan-perbuatan yang bisa membatalkan umrah, seperti: menggunting rambut dan kuku, memakai wewangian, membunuh binatang, bersetubuh, menutup kepala dengan peci, topi, dll. Jika larangan ini dilanggar, ibadah umrahnya akan batal dan harus membayar dam (denda).

Nah, untuk mencegah terjadinya hal-hal yang (nggak) diinginkan dan membatalkan umrah, aku memutuskan untuk tidur saja selama sisa perjalanan menuju Mekkah. Kan sayang juga kalau harus membayar dam hihi..

Karena capek dan ngantuk, tidurku lelap sekali. Begitu bangun, ternyata bus sudah tiba di Mekkah. Sekitar jam 2 dini hari waktu setempat, kami cek in di Hotel Dar Al Eiman. Ketua rombongan memberi instruksi agar kami mandi dan sholat Isya’ di hotel, sebelum melaksanakan umrah bersama-sama.

Karena nggak boleh memakai wewangian, aku cuma mandi kucing tanpa memakai sabun. Terasa aneh sih, tapi daripada nantinya umrahku batal dan nggak sah, mau bagaimana lagi hehe..

Setelah itu, rombongan kami berkumpul dan berjalan kaki ke Masjidil Haram. Di sinilah moment yang membuatku mulai bergidik. Aku merinding, ada rasa spiritual yang belum pernah kurasakan seumur hidupku. Sekali lagi, rasa haruku menyeruak. Sambil melafazkan “Labaik Allahuma Labaik, Labbaik Laa Syarika Laka Labbaik. Innalhamda Wanni’mata Laka Walmulk Laa Syarikalaak,” kami memasuki halaman Masjidil Haram yang sangat luas. Ustadz kami meminta agar kami mengucapkan doa memasuki Masjidil Haram bersama-sama dan melepas alas kaki.

Beberapa saat kemudian, aku pun nggak kuasa menahan air mata ketika pada akhirnya kulihat bangunan berbentuk kubus yang tertutup kain berwarna hitam itu. Bangunan yang selama ini menjadi kiblat bagi semua umat muslim di seluruh dunia saat melakukan sholat. Iya, itu Ka’bah. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Subhanallah. Aku menangis. Tangisanku kala itu adalah tangisan penuh syukur dan senang. Betapa Allah sudah terlalu baik karena mengizinkan aku beribadah langsung di sana. Tempat itu terasa sangat nyata dan indah. Aku merasakan detak jantungku berdebar kencang, aku gemetar merasakan semangat spiritual yang terpancar dari dalam diri setiap manusia yang berada di sana.
image

“Sungguh besar kuasa-Mu, Ya Allah. Terima kasih atas nikmat luar biasa yang Kau berikan padaku ini,” ucapku dalam hati sambil mengusap air mata.

Kami langsung melakukan tawaf; rukun umrah yang kedua. Tawaf dilakukan dengan memutari Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran. Cukup banyak yang melakukan tawaf saat itu. Suasananya riuh penuh semangat. Aku pun serasa terseret semangat itu bersama rombonganku.

Setelah melakukan tawaf, jamaah umrah disunnahkan untuk sholat dua rakaat dan juga minum air Zam-zam, lalu kemudian dilanjutkan dengan rukun umrah berikutnya, yaitu Sa’i.

Menurutku, Sa’i adalah rukun umrah yang paling melelahkan. Kita harus berjalan dan berlari kecil sebanyak tujuh kali bolak-balik dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah. Untungnya sekarang jalan antara kedua bukit ini sudah dibangun seperti gedung, jadi kita berjalan di dalam ruangan. Nggak bisa membayangkan gimana sewaktu ibunda Nabi Ismail A.S harus mencari minum untuk Nabi Ismail A.S di bawah terik matahari yang menyengat dari Bukit Shafa menuju Bukit Marwah ini. Tapi semangatku kembali muncul ketika melihat banyak sekali ibu-ibu yang sudah berumur, namun masih tetap menjalankan Sa’i dengan penuh semangat.

Di Mekkah, juga ada sebuah tempat yang mustajab untuk berdoa, seperti halnya Raudhah yang ada di area Masjid Nabawi. Tempat tersebut bernama Hijr Ismail. Letaknya tepat di samping salah satu sisi Ka’bah. Dan seperti halnya Raudhah, kami para jama’ah haji dan umrah juga berebut untuk bisa sholat dan berdoa di area Hijr Ismail. Parahnya lagi, tempat ini dijaga oleh beberapa orang berkulit hitam yang berbadan kekar dan bermuka garang.

Namun aku sangat bersyukur karena aku berhasil melakukan sholat dan berdoa di Hijr Ismail sebanyak dua kali. Itupun, aku harus bergantian dengan Mas Yudwi dan Ibunya yang sempat terinjak oleh jamaah lain ketika berusaha memasuki Hijr Ismail, dan juga Mas Yusuf yang mengajak istrinya. Alhamdulillah. Semoga sholat dan doaku segera diijabah oleh Allah SWT.

Dan setelah melakukan beberapa rukun umrah, ada satu lagi rukun umrah terakhir yang harus dijalankan; yaitu tahalul. Tahalul dilakukan dengan mencukur rambut. Konon katanya, jumlah dosa yang akan dilebur, sama dengan jumlah helai rambut yang kita cukur. Mengingat dosaku yang cukup banyak, aku merelakan rambutku untuk dibabat habis tanpa ada sisa sehelaipun. Lucu sih jadinya, mirip seperti Ipin Upin hehe.. Tapi karena demi ibadah, aku pun ikhlas.
image

Selesai tahalul, sekitar jam dua dini hari, Mas Yudwi dan Mas Yusuf mengajakku untuk mencoba mencium Hajar Aswad. Sebenarnya tubuhku sudah sangat lelah, anggota rombonganku pun sudah kembali ke hotel. Aku pun sedikit pesimis, apa iya aku bisa mencium Hajar Aswad? Tapi setelah kupikir ulang, aku sudah jauh-jauh menempuh perjalanan ini, apa salahnya dicoba kan? Nothing to lose. Bismillah!

Dengan tekad kuat, kami bertiga berusaha menembus orang-orang yang sedang menjalankan umrah memutari Ka’bah.

“Kita harus ikhlas. Serahkan semua pada Allah. Kalau memang rezeki, pasti kita bertiga bisa mencium Hajar Aswad. Bismillah aja, yang penting jangan sampai menyakiti orang lain. Jangan mendorong orang lain yang ada di depan kita, ataupun melakukan hal lain yang membuat orang merasakan sakit ya,” kata Mas Yusuf.

“Baiklah, ayo kita coba!” dalam hatiku berkata sambil meyakinkan diriku sendiri.

Kami bertiga mencoba menembus barisan orang dari sisi sebelah kiri Hajar Aswad, hingga akhirnya kami sampai pada dinding Ka’bah sebelah kiri. Hajar Aswad benar-benar sudah di depan mata. Aku berusaha keras untuk mencapai, namun tanganku masih nggak bisa menjangkaunya. Ada orang-orang berbadan sangat besar yang menghalangi kami mendekati Hajar Aswad, tapi kulihat dia malah memberikan jalan pada beberapa orang lain. Astaghfirullah, rasanya aku hampir menyerah saat itu.

“Orang itu memang sengaja dibayar oleh jamaah haji atau umrah yang ingin mencium Hajar Aswad tanpa harus bersusah payah. Kita coba lewati dia pelan-pelan ya. Ayo, sedikit lagi. Kita pasti bisa!” ujar Mas  Yusuf memberi semangat.

Posisiku malah semakin terjepit dan terus saja didorong oleh orang-orang di belakangku. Mas Yudwi juga ikut terjepit kerumunan orang yang juga berebut mencapai Hajar Aswad. Dorongan dari belakang kami semakin kuat. Duh.

“Tunggu sebentar, kita tunggu kesempatan sambil cari celah biar bisa masuk!” kata Mas Yusuf memberi aba-aba.

Semenit kemudian, aku melihat Mas Yusuf sudah berhasil melewati orang-orang bertubuh besar yang menghalangi kami. Entah bagaimana caranya dia melakukan itu dengan mudah. Mas Yudwi dan aku pun terus mencoba melewati orang itu, tapi masih saja sulit. Badannya sangat besar dan kekar.

“Astaghfirullah, kenapa begitu susahnya Kau berikan halangan ini, Ya Allah,” rintihku dalam hati, setengah patah arang.

Begitu aku melihat Mas Yusuf sudah berhasil mencium Hajar Aswad, aku berkata sambil berdoa dalam hati, “Ya Allah, tolong izinkan hamba-Mu mencium Hajar Aswad-Mu juga. Aku ingin menyentuh dan menciumnya hanya karena-Mu.”

Dan tiba-tiba, doaku seakan dikabulkan begitu saja. Pria-pria berbadan besar yang ada di hadapanku pun pergi entah ke mana, dan memberiku jalan tanpa aku harus melawan maupun mendorongnya. Dengan cepat, kuraih Hajar Aswad dan aku berhasil menciumnya!

Subhanallah, baru kali ini aku mencium batu yang wanginya luar biasa. Sambil menahan tangis haru, aku menciumnya dan mengucap doa untuk kedua orang tua, dan doa sapu jagad untuk keselamatan di dunia dan akhirat.

“Allahummaghfirli wali wali dayya warhamhuma kama rabbayani saghira. Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina adzabanar.”

Aku sekali lagi sangat bersyukur bisa mencium Hajar Aswad; tempat yang juga sangat diinginkan oleh setiap muslim ketika melaksanakan ibadah haji maupun umrahnya. Dan lagi-lagi, aku merasakan mukjizat Allah saat mencium Hajar Aswad. Sama sekali nggak ada seorang pun yang mendorongku dari belakang, hingga aku dengan leluasa menciumnya dalam waktu yang sangat lama. Setelah itu, aku pun melihat Mas Yudwi bisa menggapai dan mencium Hajar Aswad sepertiku. Kami bertiga sungguh dikaruniai keberuntungan oleh Allah saat itu.

Tubuhku yang semula sudah sangat lelah, rasanya tiba-tiba kembali bersemangat. Entah dari mana datangnya energi itu.

“Apa mungkin ini energi dari Hajar Aswad?” tanyaku pada diriku sendiri.

Wallahu a’lam bish-shawab. Yang pasti, rasa capekku hilang begitu saja selepas mencium Hajar Aswad. Subhanallah. Aku sungguh nggak bisa berhenti bersyukur menikmati karunia Allah yang sungguh luar biasa ini. Allah Maha Baik. Aku sungguh makhluknya yang sangat beruntung bisa diizinkan untuk melaksanakan perjalanan yang membuatku semakin bersyukur kepada-Nya. Aku tahu, nggak semua orang memiliki kesempatan mulia ini.

Namun, di tengah rasa syukurku atas nikmat dan karunia yang luar biasa itu, aku masih saja sempat menginginkan sesuatu yang sebenarnya sudah kumiliki. Entah kenapa, aku ingin membeli handphone baru. Padahal waktu itu, aku sudah memiliki handphone yang lumayan canggih.

Sampai di suatu malam…

“Bruaaaaakk!”

“Aaaaaaargh…” teriakku kaget.

Ternyata, malam itu, aku bermimpi sedang dikejar seekor anjing. Karena ketakutan, aku berusaha mengambil batu dan melemparnya ke arah anjing itu. Tapi kenyataannya, aku tertidur dalam keadaan sedang memegang handphone. Jadilah yang kulempar ke anjing yang ada di dalam mimpiku tadi adalah handphone yang ada dalam genggaman tanganku.

“Duh, Rio, kebodohan macam apalagi yang kau lakukan ini?” cemoohku dalam hati pada diriku sendiri sambil memunguti bagian-bagian handphone yang hancur karena terlempar ke tembok.

“Astaghfirullah. Ampuni aku, Ya Allah. Sungguh Engkau Maha Tahu dan Maha Mendengar isi hati setiap hamba-Mu,” kataku dalam hati sambil menyesali kebodohanku.

Sungguh hal itu menjadi pelajaran untukku agar tidak lagi memiliki keinginan yang terlalu serakah dan bersifat duniawi semata. Allah Maha Tahu walaupun keinginan setiap hamba-Nya, walaupun belum terucap di lewat mulut.
image

Dari umrahku ini, aku merasa ini adalah perjalananku mencapai titik terendah sekaligus titik tertinggiku sebagai seorang muslim. Di sini, aku berharap dosaku dilebur hingga mencapai titik terendah. Dalam perjalanan ini pula, aku berdoa agar ketetapan iman dan islam ku akan dinaikkan oleh Allah. Aku menemukan diriku sendiri melalui perjalanan ini, pun menyadari bahwa aku hanya manusia yang tiada artinya tanpa Tuhanku; Allah. Semoga sepulang umrah, aku menjadi manusia baru yang siap menghadapi apapun di depan sana. Manusia baru tetapi tanpa melupakan kodratku sebagai manusia yang masih harus terus belajar dari hikmah kehidupan yang telah kudapat. Terima kasih, Ya Allah. Izinkan aku datang lagi ke Rumah-Mu dengan orang-orang yang kucintai secepatnya, di waktu yang Kau kehendaki. Aamiin.